Senin, 13 Maret 2017

Dirjen Bimas Hindu: ” Pembinaan Umat Hindu Melalui Pendekatan Budaya”

Pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 Prof. Ketut Widnya selaku Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI memberikan materi pembekalan kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (Pakemnas) IX DPN Peradah Indonesia di Mahajaya Hotel, Denpasar, Bali.

Mengawali pembekalannya, Dirjen Bimas Hindu mengajak pemuda Hindu melakukan pembinaan pendekatan budaya dalam pembinaan umat, bukan hanya dengan pendekatan agama. Agama dengan sendirinya akan selalu beriringan dengan adat dan budaya. Misalnya di  Bali yang sangat kuat adat dan di tradisinya. Di Jawa, Papua, Kalimantan dan sebagainya pastilah berbeda. Pengembangan agama lewat seni budaya contoh pengembangan Kecak ala Papua, tentunya ini sangat menarik wisatawan lokal dan manca negara. Seni lebih berkembang dan sangat efektif dan Kolaborasi budaya Papua dan Bali ini sangatlah luar biasa. Agama Hindu menyumbangkan budaya yang tinggi kepada Indoensia apalagi Bali di sektor wisata.
Bimas Hindu telah memberi contoh nyata pembinaan umat melalui pendekatan budaya yaitu melalui  Utsawa Dharma Gita (UDG) untuk memberi wadah apresiasi seni baca kitab suci Weda dan UDG kali ini adalah yang ke-13 yang akan dilaksanakan di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dan Pemprov. Sumatera Selatan akan membangun pusat senin budaya Hindu untuk umat Hindu. Masyarakat tidak akan merasa terganggu jika dibangun pusat budaya berbeda dengan agama. Pendekatan Lomba budaya pada perguruan tinggi adalah ajang Temu Karya Ilmiah yang kita kenal dengan Temu Karya Ilmiah (TKI). Ditjen Bimas Hindu akan terus memupupuk nilai-nilai agama Hindu melalui budaya di kampus. Selanjutnya adalah ajang Jambore pasraman yang pesertanya anak-anak dari tingkat SD, SMP dan SMA.  Mari kita pupuk dan perkenalkan budaya Weda pada anak-anak melalui Jambore Pasraman, Mahasiswa melalui TKI, masyarakat melalui Utsawa Dharma Gita. Jadi kesimpulannya nilai-nilai agama Hindu akan selalu beriringan dengan budaya. Hal ini yang teru dikembangkan oleh Ditjen berkerjasama dengan PHDI.

Lebih lanjut Dirjen Bimas Hindu manyatakan bahwa setelah Kemerdekaan RI tahun 1945 peradaban Hindu di Indonesia mulai berkembang pesat. Sebagai buktinya setiap provinsi ada umat Hindunya yang berkembang dan berkarya dalam membangun dan mengembangkan nilai-nliai budaya Hindu seperti tempat suci terutama di Bali. Pura adalah tempat di mana umat Hindu bisa melakukan kegiatan keagamaan, ekonomi, sosial, budaya dan juga pendidikan keagamaan Hindu.

Ada beberapa persoalan Umat yang kita hadapai dewasa ini. Di antaranya adalah rendahnya pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agama. Menurut beberapa sumber terpercaya, umat Hindu ada di posisi ke-3 setelah Agama Islam dan Kristen. Di Agama lain pendidikan agama itu sudah ditekankan sejak usia dini. Sehingga tidak heran jika di usia dini sudah bisa menghafal akitab suci dan berani tampil sebagai pembicara dan mereka mendapat apresiasi dari pemerintah. Untuk itu apapun profesi kita maka kita harus memahami agama Hindu kemudian mengajarkannya kepada anak-anak kita. Jangan serahkan semua pendidikan anak kita kepada guru Agama di sekolah. Solusi lain yang bisa kita ambil adalah bersinergi dengan Parisada dan semua lembaga keagamaan Hindu termasuk Peradah Indonesia. Bimas Hindu telah memberikan bantuan kepada lembaga agama dan keagamaan termasuk Peradah untuk operasional pembinaan umat Hindu di daerah. Sehingga bantuan operasional dan sarana ini akan memberikan motivasi kepada lembaga keagamaan untuk lebih semangat dalam melakukan pembinaan. Hal ini sejalan dengan visi Bimas Hindu yang dijabarkan dalam misi Bimas Hindu salah satunya adalah meningkatkan pemahaman ajaran ajaran Hindu. Indikatornya adalah semakin banyak umat Hindu yang terbina apakah berubah sikap. Dirjen Bimas Hindu menegaskan Ini bukan hanya tanggung jawab Dirjen Bimas Hindu melainkan tanggun gjawab semua lembaga Hindu terutama PHDI dalam membina umat. Makanya nomenklatur Hindu di Kementerian Agama adalah Bimbingan Masyarakat Hindu yang tertuang dalam visi misi Direktorat.

Hasil pembinaan tidak dapat diukur dengan segera/isntan. Memerlukan waktu  yang relatif lama. Artinya setelah diberikan pembinaan dan bantuan apakah umat sudah berubah perilakunya?. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa semua pembinaan dan bantuan dari pemerintah itu akan merubah sifat dan karakter umat Hindu. Minimal umat Hindu kita fasilitasi dengan pembinaan, pemberian bantuan dan seni budaya seperti UDG, Jambore Pasraman, Festival Bhagavadgita dan lain sebagainya.

Permasalahan selanjutnya adalah Lemahnya SDM Penyuluh Agama Hindu. Idealnya 100 umat Hindu dibina oleh 1 penyuluh Agama Hindu. Menurut data yang dihimpun di lapangan bahwa kita memilikki jumlah penyuluh PNS sebanyak 150 (seratus lima puluh) orang, dan tersebar Bali sebanyak 80 (delapan puluh). Jadi sekitar 70 penyuluh tersebar di seluruh Indonesia. Untuk jumlah Non PNS: 2500 (dua rubu lima ratus) Penyuluh Agama Hindu non PNS. Penyuluh adalah ujung tombak Pembinaan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Pemerintah telah menaikkan honor penyuluh non PNS dari Rp. 300.000,- menjadi Rp. 500.000,- dan Ke depan akan diperjuangkan mejadi Rp. 2.500.000 per bulan dengan catatan jumlah dikurangi dan penyuluh berkompeten. Memang kita akui masih ada beberapa penyuluh yang aktif dan ada juga penyuluh yang tidak aktif melakukan kegiatan pembinaan. Ini harus ditindaklanjuti. Kabid dan Pembimas Hindu harus pro aktif melaporkan penyuluh yang tidak aktif sehingga kita bisa melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap penyuluh agama Hindu non PNS.

Menurut laporan dari Pembimas Hindu yang diterima Ditjen Bimas Hindu masih banyak penyuluh Agama hindu yang tidak kompeten dan tidak memberi penyuluhan dan juga laporan kepada Pembimas Hindu. Walau pendidikan terakhir penyuluh sudah sarjana belum tentu bisa dan siap memberikan penyuluhan. Sebagai solusinya kita bisa meningkatkan kompetensi penyuluh dengan mengadakan workshop, orientasi, sertfiikasi dan pelatihan diklat serta lomba Penyuluh Non PNS.

Permasalahan yang ke tiga adalah masih sedikitnya formasi gur, CPNS, struktur Kepala Seksi (Kasi) dan Penyelenggara di Kabupatan kota. Jika tersedia data jumlah umat by name, data sekolah sekolah, pasraman maka akan ada rekomendasi dari Bupati Gubernur untuk pengusulan guru, CPNS dan juga membentuk struktur Kepala Seksi (Kasi) dan Penyelenggara di tingkat Kabupaten. Solusi yang bisa kita lakukan Solusi adalah berjuang di jalur politik. Maka dari itu umat Hindu yang duduk sebagai anggota DPR RI, DPRD dan DPD harus memperjuangkan formasi guru, CPNS dan struktur Kasi dan Penyelenggara.
Di Kanwil Sulawesi Selatan,  Sulawesi Tengah akan diperjuangkan lagi menjadi Kepala Bidang sehingga akan ada kasi minimal 4 Kasi. Menyusul daerah lain Ini adalah perjuangan politik.

Prof. Widnya juga berkesempatan menjawab Pertanyaan DPP. Peradah NTB perihal upaya konversi agama di NTB. Pulau Bali memang menjadi barometer seni budaya dan agama. Tetapi di luar Bali masih banyak persoalan seperti di Lombok. Terjadi konversi agama dan lain-lain. bagaimana langkah-langkah memperkokoh sradha dan Bhakti. Pola pendidikan kepada generasi muda Hindu agar sradha kuat.

Lembaga mana yang menangani pembinaan umat? Persoalan selanjutnya adakah pembinaan umat Hindu yang kurang? Upaya Ditjen Bimas Hindu dengan meningkatkan jumlah penyuluh agama Hindu non PNS saja itu tidak cukup, harus ada penambahan Kasi Bimas Hindu dan Penyelenggara Hindu. Seperti pembahasan sebelumhya bahwa salah satu kelemahan kita adalah kita punya penyuluh tetapi tidak kompeten dan jarang melakukan penyuluhan. Pada prinsipnya penyuluh agama Hindu adalah sebagai ujung tombak pembinaan umat Hindu. Untuk mencegah upaya konversi maka kita bisa menegur langsung pelakunya, jika masih berlanjut upaya itu maka laporkan saja kepada yang berwajib karena kebebasan beragama itu diatur dan dilindungi oleh Undang-Undang. Tetapi kita harus mengembakan toleransi umat beragama yang sudah dikembangkan di Indonesia juga di dunia.

Sebenarnya Parisada juga sudah melakukan pembinaan. Rendahnya pemahaman penyuluh juga berpengaruh. Disini soft skill Penyuluh Agama Hindu harus kita tingkatnya terutama mengenai kemampuan berbicara, problem solving dan seni berkomunikasi. Solusi selanjunya adalah Ditjen Bimas Hindu akan melakukan evaluasi terhadap kejadian ini. Terutama mengevaluasi SDM Penyuluh dengan berkoordinasi dengan Kabid Urusan Agama Hindu, Pembimas Hindu, Kasi dan Penyelenggara Hindu di daerah. Dirjen Bimas Hindu berharap Peradah juga aktif membina dalam hal pembinaan generasi muda.

Di bidang pendidikan Dirjen Bimas Hindu akan mendirikan sekolah pasraman formal sesuai PMA nomor 56 tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu. Sistem pendidikan ashram terbukti sangat efektif untuk membentuk karakter generasi muda seperti pola pada pondok pesantren yang diyakini akan mampu membentuk karaktaer siswa di pasraman. Di pasraman akan diperkuat dengan kurikulum agama Hindu. Ini harapan kita lewat jalur pendidikan asrama membentuk karakter generasi muda yang mengerti agama dan memperjuangkan pembinaan agama. Bimas Hindu juga sudah mendirikan pusat pendidikan di luar Bali sperti STAHN Gede Pudja, STAHN Tampung Penyang dang beberapa perguruan tinggi Hindu swasta lainnya sebagai pusat pengembangan pendidikan Hindu di luar Bali. Sistem Pendidikan Boarding School bisa kita kembangkan, ini akan menjadi sejarah baru dalam pembinaan generasi muda Hindu. Ke depan Pasraman formal akan diperjuangkan satuan kerja atau Unit Pelayanan Teknis (UPT).

Untuk di Bali kita sudah memilikki IHDN, UNHI, dan baru-baru ini Ditjen Bimas Hindu sudah melakukan penegerian STAHN Empu Empu Kuturan. Pendidikan Pasraman  masuk dalam visi misi pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Hindu. Murid Hindu juga harus diajar oleh guru yang beragama Hindu sesuai dengan Undang-Undang pendidikan Nasional. Pihak Kampus juga harus melakukan pengabdian masyarakat sebagai bentuk penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Solusi selanjutnya yang bisa kita tawarkan adalah gerakan gemar membaca kitab suci Weda. Gerakan ini akan dilaunching oleh Menteri Agama dalam waktu dekat. Dosen dan mahasiswa paska sarjana bisa melakukan penelitian sekaligus melakukan pembinaan di daerah umat yang minim akan pembinaan.

Di Bali sebenarnya sudah mewarisi tradisi kerajaan yaitu gemar membaca sastra dan lontar terjemahan Weda. Tetapi di luar bali hal ini ternyata menjadi masalah tersendiri. Banyak umat yang tidak gemar mebawa sloka apalagi kekawin. Untuk itu pembelajaran Weda harus dikenalkan kepada anak-anak diawali dengan cerita – cerita Itihasa dan Purana seperti Kisah Kepahlawanan Mahabharat dan Ramayana. Anak-anak akan tertarik mempelajari Weda. Akan tumbuh sradha dan bhakti pada diri umat Hindu setelah membaca Itihasa dan Purana. Kitab suci Weda yang terlalu banyak kodifikasinya membuat umat sulit untuk memahaminya, maka Bimas Hindu akan fokus pada pengadaan kitab Bhagavdgita dab Sarasamuccaya. Dari sisi Histyoris di Bali ada 3 (tiga) aliran besar yang ada dalam agama yaitu Siwaisme, Wasinawa, dan Tantra. Ketiga nya berbeda. Di Bali Kombinasi Siwaisme dan Tantraisme menjadi Siwa Sidhanta. Hal ini yang membuat budaya Hindu sangat kompleks.


Di akhir paparannya Dirjen Bimas Hindu menyampaikan fakta bahwa pelemahan generasi muda melalui narkoba juga menjadi masalah besar dalam pembinaan umat di samping miras dan pornografi sehingga penyuluh harus melengkapi bahan pembinaannya tidak hanya masalah agama tetapi juga materi pembinaan bahaya Penyalah gunaan narkoba, Penanggulangan Penyakit HIV AIDS, Bahaya miras, kenakalan remaja, pranikah, keluarga sukhinah dan bahaya narkoba. (eko prasetyo).

Dirjen Bimas Hindu Menutup Kegiatan Pakemnas IX Peradah

Pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 malam, Prof. Ketut Widnya selaku Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI memberikan materi pembekalan kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (Pakemnas) IX DPN Peradah Indonesia di Mahajaya Hotel, Denpasar, Bali. Hadir pada kesempatan itu Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Drs. I Wayan Catra Yasa, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, para alumni dan pendiri Peradah dan tamu undangan.

Di awal sambutannya Dirjen Bimas Hindu memberikan apresiasi dan harapan pada Hari jadi DPN Peradah yang ke-33 pada tanggal 11 Maret 2017. Semoga Peradah selalu jaya dan semakin dekat dengan umat. Pemuda harus mengikuti dinamika umat. Dirjen juga mengucapkan terima kasih dan Apresiasi kepada alumni pendiri dan penggagas Peradah. Peradah harus mendekati pemuda agar mau ikut bergabung dengan Peradah karena ada tipe pemuda yang menyendiri ada yang senang berorganisasi. Ada yang introvert ada juga yang ektrovert dan juga bipolar. Tetapi Peradah dari sejak awal berdiri termasuk organisasi yang diminati oleh permuda. Terbukti dengan banyaknya anggota dan juga tingginya peminat untuk menjadi ketua Peradah. Harapan kita semoga ada yang berminat memperjuangkan Hindu di jalur politik dan lain sebagainya. Sejak awal kemerdekaan Hindu sudah mulai tumbuh dan diawali piagam campuan ubud. Mari kita perkuat fungsi pura selain sebagai temat melakukan kegiatan ibadah umat juga bisa untuk melakukan kegiatan sosial, budaya, pendidikan bahkan pemberdayaan ekonomi umat.

Dirjen juga berpesan agar Peradah ikut andil dalam meningtingkatkan kerukunan intern umat Hindu juga ekstern. Fakta membuktikan yang menghancurkan Kerajaan Majapahit adalah perang saudara. Dirjen berharap alumni Peradah siap menerima estafet kepemimpinan nasional. Peradah dan Bimas Hindu siap mengawal kebangkitan Hindu. Pemuda harus meningkatkan soft skil di samping juga melakukan upgrade diri terlebih di era MEA di tahun 2020 mendatang.

Sebentar lagi ada UDG XIII di Palembang, Sumatera Selatan, Sehingga ada pembinaan UDG baiik pusat dan daerah. Peserta yang ikut UDG akan memahami seni dan mengerti agama. Leluhur Bali berkata: ”Melajah sambilag megending” Pembinaan umat melalui UDG sangat efektif sekali. Di mana di dalamnya ada materi lomba baca sloka, menghafal sloka, ada juga ceramah keagamaan yang menjaring bibit muda Hindu melalui pendharma wacana cilik. Inilah wujud Pembangunan agama melalui seni budaya. Siswa, mahasiswa dan masyarakat tersalurkan apresisiasi seni budaya melalui UDG jambore pasraman. Yang nantinya di tangan mereka inilah generasi muda mampu memahami agama dan membela agamanya. Mari kita bangun peradaban Hindu Indonesia.

Di Palembang akan ada perayaan Panca Walikrama dan akan dibangun pura di Palembang, ini wujud kepdeulian pemerintah kita dalam pembinaan kerukunan agama yang dibiayai APBN dan APBD. Ini juga merupakan Indikasi toleransi yang semakin baik. Peradaban Hindu Indonsia modern harus terwujud. Untuk menangkal paham radikalisem, kita jangan mudah percaya berita hoax. Mari gunakan medos dengan bijak untuk pembinaan umat dan berita umat. Ditjen memberikan apresiasi berita umat baik dari Pembimas, PHDI, Peradah dan lainnya.

Data umat sering tidak tepat hanya mengambil sample di Bali yang jumlah umat 3,5 juta jiwa, di luar bali bagaimana? Jika jumlah umat sedikit maka anggaran Ditjen Bimas Hindu akan kecil. Sehingga Bimas Hindu mengembangkan aplikasi SMART yang mendata umat by name tidak hanya jumlah. Dan menggandeng Perguruan tinggi Hindu untuk melakukan riset dan penelitian jumlah umat karena lembaga ini secara hukum berhak melalukan riset dan penerlitian sebagi bagai Tri Dharma Perguruan Tinggi.


Akan ada penelitian-penitian perguruan tinggi untuk pendataan umat by name. Jika anggaran naik maka Lembaga agama dan keagamaan termasuk Peradah akan mendapat bantuan yang lebih untuk melakukan pembinaan. Dan bantuan kepada pemberdayaan ekonomi umat akan semakin meningkat. Dalam masa pemerintahan Jokowi JK pemerintah harus hadir di tengah masyarkat. (ep2017).

PERADAH GELAR PELATIHAN KEPEMIMPINAN NASIONAL

Pada hari Kamis, 9 Maret 2017 sampai dengan Minggu 12 Maret 2017 Mahajaya Agung Hotel & Convention Center Jalan HOS. Cokroaminoto No. 63, Kota Denpasar, Bali, Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (DPN PERADAH) menyelenggarakan Kegiatan PAKEMNAS IX (Pendidikan Kepemimpinan Nasional) PERADAH INDONESIA. Adapun tema pada kegiatan ini adalah “Satya Bhakti Prabhu” yang berarti Bekerja dan Berkarya Melayani Sesama,

Acara didahului dengan Sarasehan Nasional yang berlangsung di Gedung Sewaka Dharma Denpasar pada tanggal 11 Maret 2017. Hadir pada kesempatan itu I.B Rai Dharmawijaya Mantra selaku walikota Denpasar, Ketua PHDI Pusat, Praktisi Pendidikan,  Penyelengggara Hindu pada kantor Kementerian Agama Kota Batam, D.Sures Kumar,S.Ag.,M.Si selaku Ketua DPN Peradah Indonesia, I.A.M Purnamaningsih S,Sos.H selaku Ketua DPP Peradah Prov. Bali, Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Peradah se-indonesia, perwakilan Kampus, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara (YJHN) dan organisasi Kemasyarakatan lainnya.

Acara diawali dengan sambutan Ketua panitia yang dibawakan oleh I Made Ginardo. Selaku ketua Panitia Pakemnas dari daerah Prov. Bali. Dalam sambutannya ketua panitia mengucapkan terima kasih atas bantuan dari semua pihak baik dari pemerintah dalam hal ini MPR RI, DPR RI, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, Kementerian Pemuda dan Olah Raga, Kementerian Pariwisata, Kementerian Negara Koperasi Usaha kecil dan Menengah,  Pemprov Bali, Pemkot Denpasar, IHDN, UNHI, PHDI Pusat, DPR RI, BUMN seperti Bank Indonesia, Bank BRI, Bank BNI, Bank Mandiri, Bank DPDP Bali, Kanwil kementerian Agama Prov. Bali, Kantor Berita jendela Nusantara, Bali Post dan pihak lain baik dari media cetak dan elektronik, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, serta organisasi kemasyarakatan yang lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Acara ini terselenggara berkat bantuan dan kerjasama dari semua pihak.

Dilanjutkan dengan sambutan Ketua DPN Peradah Indonesia. Dalam Sambutannya D Suresh Kumar manyatakan bahawa Pemimpin yang ideal lahir dari sebuah proses dan jenjang secara bertahap. Teori sosial tentang kepemimpinan menyatakan bahwa “seorang pemimpin harus di bentuk, tidak begitu saja muncul dan ditakdirkan sebagai pemimpin, oleh karena  itu seseorang menjadi pemimpin karena proses pendidikan  dan pelatihan”.

Pemuda selaku generasi penerus bangsa memegang peranan penting untuk akselerasi pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu pemuda Indonesia diharapkan mempunyai sikap inovatif dan kreatif yang dikombinasikan dengan sikap disiplin, kritis, dan dinamis, mempunyai integritas, tidak gampang terseret dalam arus negative modernisasi, bisa bersikap yang semestinya dalam menghadapi kenyataan, mengenal nilai-nilai budaya bangsa, serta berani bersaing/berkompetensi untuk “knowledge based society’. Untuk mencapai kualitas tersebut, perlu adanya komitmen bersama dan dilakukan secara konsistensi dari waktu ke waktu. Pengembangan keahlian Soft Skill harus ditingkatkan. Keahlian Soft skill meliputi keahlian berbicara, menulis, memimpin, menyelesaikan masalah, mampu bekerja dengan tim, mampu bekerja di bawah tekanan dan lain sebagainya. Ini adalah ciri pemuda yang tangguh. Pemuda Hindu juga harus berani melakukan upgrade diri dalam hal pendidikan, ketrampilan dan keahlian.

Pehimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) sebagai organisasi kader memiliki kewajiban moral untuk menyiapkan kader-kader pemimpin umat Hindu dan pemimpin Indonesia sesuai dengan tuntutan perkembangan. Terkait dengan hal tersebut, salah satu upaya PERADAH Indonesia adalah dengan meningkatkan SDM generasi muda Hindu, Khususnya Kader–kader PERADAH Indonesia melalui Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PAKEMNAS) PERADAH Indonesia yang saat ini memasuki angkatan ke IX.

PAKEMNAS IX PERADAH Indonesia ini diharapkan mampu menghasilkan calon pemimpin yang memiliki loyalitas terhadap anggota serta pada organisasi yang dipimpinya. Seorang pemimpin harus  menumbuhkan sikap loyal pada setiap orang agar dapat tercipta rasa kebersamaan dan saling memiliki dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin harus loyal kepada bawahan agar bawahan loyal kepada atasan. Artinya antara bawahan dan pimpinan harus bekerjasama atas dasar saling menghormati. Jika tidak maka siap-siap kita akan memilikki anak buah yang pura-puta baik di depan kita tetapi sebenarnya tidak baik di belakang kita.

Ada pepatah yang  menyatakan: ”Loyalitas dekat dengan pengorbanan”. Memang pada kenyataannya loyalitas selalu diiringi dengan pengorbanan, namun hasil yang akan dipetik pun akan sangat manis dan mampu memiliki pengaruh yang positif terhadap organisasi. Seorang pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain serta seluruh anggotanya, bukan dengan mengorbankan orang lain. Menjadi hebat tidak harus mamatikan yang lainnya. Untuk terlihat terang sebuah lampu tidak harus mematikan semua lampu. Dia akan terlihat terang di antara lampu yang terang. Dalam filsafat Jawa dijelaskan, sakti tanpa aji, nglurug tanpa bala, artinya tidak merendahkan orang lain.

Kegiatan ini juga bertujuan melatih leadership yang dekat dengan rakyat, sebab untuk apa jadi pemimpin jika sekedar mendudukin singgasana dengan tidak memperhatikan nasib rakyat. Pemimpin yang mampu bekerja dan menghasilkan karya terbaik tentu saja tidak dapat dipelajari secara teori saja. Perlu adanya proses dan terjun langsung untuk merasakan dinamika dimasyarakt. Kepemimpinan yang melayani dan kerja untuk karya dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki adalah kebutuhan bangsa saat ini.

Kegiatan PAKEMNAS IX PERADAH Indonesia ini dirangkaikan dengan Sarasehan Pariwisata dan Budaya dengan tema “Memperkuat Pariwisata Berbasis Kearifan Budaya Lokal” Permasalahan pengembangan dan promosi pariwisata, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah dinilai semakin penting untuk mendukung pembangunan nasional. Demikian juga kekayaan alam dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, perlu mendapat perlindungan serta membutuhkan upaya pelestarian agar dapat menjadi daya tarik wisatawan. Hal ini dilakukan agar meningkatkan jumlah kunjungan wisata baik domsetik maupun mancanegara. Pengembangan pariwisata yang sejalan dengan pembangunan budaya dan semangat manusia beserta cipta, rasa, dan karsanya. Gagasan tersebut dikembangkan berdasarkan pembangunan daya tarik wisata didasarkan pada pembangunan masyarakat dan budayanya.

Rangkaian terakhir dari PAKEMNAS IX PERADAH Indonesia adalah Bhakti Sosial dalam bentuk Pengobatan Gratis dan Penghijauan dengan mengangkat tema “Kita Semua Bersaudara”. Kegiatan ini sebagai pengejawantahan dari leadership yang dekat dengan rakyat. Didasari atau tidak masih ada kalangan masyarakat yang kurang mampu dari segi ekonomi. Begitu juga dengan kelestarian lingkungan,saat ini begitu banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia ini akibat social dibidang kesehatan “Pengobatan Gratis” dan peduli lingkungan, dengan melakukan Penghijauan di beberapa wilayah di Karangasem-Bali. Kedua Kegiatan tersebut dirasa saling bersinabungan dan terkait, dimana dengan masyarakat yang sehat dan lingkungan yang sehat akan mewujudkan masyarakat yang kuat, menuju masyarakat, menuju masyarakat yang sejahtera.

Selanjutnya adalah sambutan dari I.B Rai Dharmawijaya Mantra selaku Walikota Dernpasar. Dalam sambutannya Walikota Denpasar menyatakan bahwa Bangsa Indonesia menaruh harapan yang besar kepada pemuda Indonesia. Dan melalui kegiatan ini walikota menaruh harapan yang besar juga kepada pemuda Hindu untuk turut membangun bangsa melalui jalur pembinaan generasi muda Hindu. Ida Bagus juga menyinggung tema Pakemnas kali ini yaitu Satya Bhakti Prabu yang berarti Bekerja dan berkaya melayani sesam. Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra berharap agar Peradah semakin dekat melayani umat agar dikenal dan mendapat tempat di hati umat Hindu. Tema ini Hampir sama dengan slogan Pemkot Denpasar yaitu Sewaka Dharma yang berarti melayani adalah kewajiban. Revolusi mental yang diterapkan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo berhasil merubah mindset birokrasi di Indonesia pada umumnya dan di Kota Kota Denpasar khususnya. Sebagai salah satu aplikasinya adalah penerapan Pelayanan publik satu atap di Pemko Denpasar. Perubahan paradigma pelayanan Pelayana publik di Kota Denpasar sudah berubah kea rah yang lebih baik yaitu budaya melayani masyarakat. Walikota juga berpesan agar penguatan dan pelestarian budaya menjadi juga menjadi ujung tombak pempangunan umat. Peradah harus membangkitkan potensi budaya kearifan lokal masing-masing daerah. Tumbuhkan semangat berkarya dan berwirausaha. Semangat kebhinekaan harus tetap terjaga di hati anggota Peradah, di samping penguatan nilai pancaraila, UUD 1945 dan NKRI harga mati. Diakhir sambutannya, walikota Denpasar membuka acara ini secara resmi. (eko_p_2017)



Senin, 06 Maret 2017

Prof. Dr. I Made Surada, MA: "Dharma Gita adalah Sarana Bhakti, bukan Hanya Pelengkap Upacara Yajna"

Bertempat di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam, secara khusus I Gusti Ayu Indira Lakshmi Anom yang merupakan salah satu siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti mewancarai Prof. Dr. I Made Surada, MA di dampingi oleh Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, pada Hari Sabtu, 4 Maret 2017. Indira yang merupakan siswi kelas VIII SMP unggulan di Kota Batam ini dengan tenang menanyakan satu per satu pokok bahasan dalam dharma gita kepada Guru Besar Sanskrta IHDN Denpasar tersebut.

Pada awal pembicaraan Indira menanyakan apakah yang dimaksud dengan dharma gita? Lalu Prof. Dr. I Made Surada, MA menjelaskan bahwa dharma gita itu adalah nyanyian tentang dharma. Dharma sendiri adalah kebenaran, dharma juga berarti kebajikan dan agama itu sendiri. Jadi dharma gita adalah nyanyian tentang kebenaran dan nyanyian tentang kebajikan menurut Agama Hindu. Yang termasuk Dharma Gita adalah Sloka, kekawin, kidung macapat, pupuh, palawakia dan lainya.

Menurut sastra di nusantara dharma gita yang dirumuskan dan diwariskan oleh leluhur meliputi sekar agung, sekar alit dan sekar madya. Dalam sekar agung kita mengenal kekawin, sloka, dan palawakia. Dalam sekar madya kita mengenal Kidung Warga Sari dalam upacara yewa yajna dan lain-lain. Sekar alit meliputi pupuh atau dalam masyarakat Hindu Jawa ada Macapat. Berdasarkan klasifikasi kesusastraan kita ada 10 (sepuluh) jenis pupuh atau macapat seperti Sinom, Pucung, Mas Kumambang, Megatruh, Dandang Gula, dan lainnya.

Dalam sastra nusantara kita juga mengenal Panca Gita yang artinya 5 (lima) jenis bunyi-bunyian yang dapat menimbulkan dan membangkitkan rasa bhakati dan kebahagiaan saat upacara keagamaan  dilaksanakan, kelima bunyi-bunyian itu yang pertama adalah suara yang berasal dari logam yaitu suara gong dan gamelan yang merupakan musik tradisonal untuk mengiringi upacara keagamaan, contoh pada saat upacara pujawali. Suara yang berasal dari kayu seperti dari kentongan pada bale kulkul yang berfungsi sebagai pertanda bahwa upacara sudah dimulai, dan umat Hindu mulai berkumpul di tempat upacara. Kemudian suara dari kidung dharma gita, kemudian suara yang berasal dari genta atau bajra yang dibunyikan oleh sulinggih atau pemangku untuk mengiringi doa dan pujian kepada Tuhan. Terakhir adalah suara yang berasal dari suara manggalaning yajna yaitu sang sulinggih dan pemangku  saat memimpin upacara yajna. Jika semuanya disuarakan secara bersamaan dan diiringi dengan rasa bhakti yang tinggi maka akan timbul energi positif yang luar biasa.

Kemudian Indira menanyakan apa fungsi dari dharma gita itu sendiri. Secara singkat sang Guru Besar IHDN itu menjelaskan bahwa Dharma gita sesungguhnya sangat berperan besar dalam upacara yajna (Dewa yajna, rsi Yajna, Pitra yajna, manusa yajna dan bhuta yajna). Dharma gita sesungguhnya merupakan salah satu bentuk perwujudan bhakti kita kepada para dewa dan leluhur. Masing-masing yajna dari Panca Yajna ada dharma gita tersendiri.

Selain menggunakan bebantenan kita juga bisa mendekatkan diri dengan Tuhan melalui sarana dharma gita. Jadi dharma gita memilikki fungsi yang dengan bebantenan yaitu sebagai sarana dan media menghaturkan bhakti sebagai persembahan kepada Tuhan dalam upakara yajna. Jadi pada perkembangannya dharma gita Bukan hanya sebagai pengiring dan pelengkap sebuah upacara yajna apalagi hanya untuk memeriahkan sebuah upacara yajna.

Yang bisa kita jadikan referensi dari nilai bhakti pada dharma gita adalah Bhagavata purana Adhaya VII sloka 53. Kita mengenal konsep Nawa Vidha Bhakti yang berarti 9 (Sembilan) jalan mendekatkan diri dengan Tuhan terlebih di zaman Kali. Adapun bagian-bagian dari Nawa Vidha Bhakti yang pertama adalah Srawanam yang artinya mendengarkan wejangan atau ajaran suci dari seorang guru atau rohaniawan. Contohnya adalah wejangan dari orang tua, rohaniawan, dan guru di sekolah.

Yang kedua adalah Vandanam yang artinya membaca kitab suci Weda. Kita bisa membiasakan diri untuk membaca hal-hal yang menuntun kita ke jalan kesucian dan pencerahan. Mebaca hal-hal tentang kebenaran atau dharma seperti membaca sloka-sloka Bhagawad-Gita, Sarasamuccaya dan kitab lainnya. Vandanam juga berarti sebuah kesepakatan bersama. Ada kesepakatan untuk mempelajari sastra suci membaca sloka kekawin. Tujuannya adalah sebagai sarana bhakti dan doa kita kepada Tuhan, para dewa dan manifestasi-Nya yang dilandasi dengan ketulusan.

Selanjutnya adalah Kirtanam yang artinya melantunkan kidung dan mantra suci. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah mekidung saat sebelum dan selesai persembahyangan Tri Sanddhya dalam upacara yajna. Contoh lainnya adalah bhajan bagi penganut Sampradaya. Di Indonesia leluhur kita mewariskan dharma gita seperti mekidung yang sama artinya dengan memuja dan memuji kebesaran Tuhan, para leluhur dan para dewa.

Selanjutnya adalah Nama Smaranam yang artinya bagaimana mengingat perilaku dan ajaran baik melalui pengucapan nama suci Tuhan yang dapat memberikan vibrasi kesucian dan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Kita hidup bersama - sama harus saling menghormati satu sama yang lain. Namasmaranam juga berarti mengucap nama suci Tuhan secara berulang-ulang, seperti mengucapkan mantra Om Namah Siwaya, Om Sri Mahalaksmayanamah, Om Sri Saraswatyai namah, dan lain sebagainya. Nama Smaranam juga merupakan pengucapan mantra dengan tujuannya agar diberikan keselamatan.

Padasewanam Artinya sujud bhakti di kaki Padma Tuhan dalam wujud Guru dan orang tua. Contoh sederhananya kita menghormati atau melaksanakan ajaran Pandita (Ratu Pedanda), Pemangku. Kita adalah pelayan dan abdi Tuhan, para dewa dan leluhur. Manusia secara kodrati adalah sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial sehingga harus menghormati orang lain terlebih guru dan orang tua. Sejak lahir kita orang tua kita sudah mengajari kit abagaimana berdiri, berjalan dan berbicara. Maka kita wajib hormat kepada beliau.

Selanjutnya adalah Sakhyanam yang artinya memperlakukan Tuhan sebagai sahabat. Apa yang kita anggap bersih dan sehat itulah yang kita persembahkan kepada Tuhan. Jangan mempersembahkan yang sudah layu dan busuk kepada-Nya. Ber-dharma gitalah dengan baik dan penuh dengan ketulusan maka Tuhan akan berkenan hadir. Menjalin persahabatan dengan semua mahkluk, dimana kita sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup sendiri, maka kita perlu menjalin persahabatan agar memiliki hidup yang tenang dan damai.

Dhasyam artinya melayani Tuhan, dewa dan leluhur. Memuja Tuhan adalah melayani Tuhan di Pura. Agar kita dimudahkan segala urusan dalam hidup kita  berpasrah diri memuja kehadapan para dewa. Berpasrah diri merupakan sikap penuh bertanggung jawab kehadapan tuhan dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kita sebagai pelayan Tuhan apapun peekrjaan kita harus selalu ingat Tuhan dan abdikan semata-mata untuk Tuhan

Arcanam artinya berbhakti kepada Hyang Widhi dalam bentuk simbol-simbol suci keagamaan. Semua agama menggunak simbol untuk memudahkan pengikutnya mencapai satu titik konsentrasi yang akhirnya muncullah bhakti dalam diri. Untuk itu kewajiban kita salah satunya adala menjaga simbol dan pratima tersebut. Kita juga wajib menjaga kesucian pura. Perlu diketahui bersama bahwa sesunggunya Tuhan tidak bisa dipikirkan atau disebut disebut Acintya Rupa (tan kagrahite dening manah indriya). Beliau tidak bisa dijangkau melalui panca indra maka duwujukan dengan simbol. Tetapi kita tidak memuja Simbol tetapi kita memuja Tuhan melalui partima dan nyasa yang disakralkan dan diinisiasi oleh sulinggih ataupun pinandita. Terakhir adalah Sevanam yang artinya memberikan pelayanan yang baik, contohnya membantu orang atau memberikan pelayanan terbaik terhadap sesama. Melayani sesama adalah bentuk pelayanan kepada Tuhan.

Fungsi dharma gita yang selanjutnya adalah sebagai sarana melatih konsentrasi pikiran atau biasa disebut dengan yoga. Dalam diam ada yoga, saat berjalan ada yoga, mengapa? karena semuanya memerlukan konsentrasi pikiran. Dan dalam dharma gita ada juga yoga. Yoga diajarkan pertama kali oleh Dewa Siwa dan diwahyukan kepada Maharsi Patanjali. Beliau merumuskan  konsep Astangga Yoga yang artinya adalah 8 (delapan) tahapan dalam melakukan yoga. Adapun bagian-bagiannya adalah Yama, yaitu pengendalian diri pada tingkat jasmani atau tahap pertama dalam pengendalian terhadap keinginan dan nafsu indria. Selanjutnya adalah Nyama, yaitu pengendalian diri tingkat rohani atau tahap lanjut dengan memupuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Yang ke-tiga adalah Asana, yaitu mengatur sikap badan apakah duduk, berdiri atau yang lainnya dengan disiplin. Kemudian Pranayama adalah teknik mengatur nafas dengan melalui tiga tahapan, yakni menarik nafas (puraka), menahan nafas (kumbaka), dan mengeluarkan nafas (recaka), yang semuanya dilakukan secara teratur. Pratyahara adalah memusatkan indria dengan mengontrol dan mengendalikan sehingga dapat diarahkan ke hal-hal kesucian. Dharana adalah pemusatan pikiran dengan berusaha menyatukan pikiran dengan Tuhan. Dhyana adalah pemusatan pikiran yang terpusat yang tingkatannya lebih tinggi dari Dharana. Dan yang terakhir adalah tingkat Samadi, yaitu Meditasi tingkat tinggi atau bersatunya Atma dengan Brahman pada tingkatan Meditasi bukan dalam arti setelah mati.

Dharma gita juga berfugsi sebagai media pembelajaran bagi kita semua khususnya bagi para siswa, anak muda dan orang awam yang baru mengenal Hindu. Kita diwarisi dengan konsep dan istilah dari penglingsir kita di Bali yaitu “melajah sambilang menggending, megending sambilang melajah”. Kita diajarkan untuk belajar agama Hindu dengan memahami makna sloka, Belajar menghayati sloka. Belajar memaknai apa yang sedang di nyakini yaitu Tuhan melalui Itahasa, dan Purana. Kita bisa mengawali mempelajari Weda dengan membaca cerita Ramayana dan Mahabharata. Maharsi Walmiki pernah bersabda bahwa barang siapa mendengar, membaca atau menerapkan Ajaran yang terkandung dalam cerita Ramayana maka akan diberkati oleh Tuhan. 

Sastra suci terkadang sulit dipelajari orang anak kecil atau orang awam. Maka biar mudah dipelajari dengan diawali dengan membaca itihasa dan purana seperti belajar kekawin, palawakia dan lainnya. Setelah kita mengetahui contoh perilaku para dewa dan orang suci maka akan muncul sradha dan bhakti dalam diri sehngga ada keinginan untuk membaca Weda lebih lanjut. Akan ada keinginan untuk memuja Tuhan akibat terinspirasi dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Tidak akan terjadi salah tafsir terhadap Weda. Di sinilah mengapa pentingnya mengawali Weda dengan membaca Itihasa dan Purana. Hal ini terdapat dalam Kita Vayu Purana dan Sarasamucaya yang menjelaskan bahwa Weda hendaknya dipelajari dengan diawali membaca Itihasa dan Purana atau cerita kisah kepahlawanan, cerita perilaku para dewa, orang suci dan juga cerita kepahlawanan dalam kisah Mahabharata dan Ramayana. Konon Weda takut kepada orang yang bodoh dan lain sebagainya. Bodoh di sini adalah tidak bisa menafsirkan dan tidak bisa memebdakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mudah menyalahkan dharma dan leluhur. Demikian dinyatakan dalam kitab suci.

Weda pada akhirnya akan dipelajari dengan cara yang menyenangkan karena dikemas dengan budaya dan theoli\ogi lokal. Jadi Hindu di India akan berbeda dengan Hindu di Bali, Jawa, Kaharingan, Toraja, Ambon, Tengger dan lain sebagainya. Semenjak abad IX sudah ada proyek menerjemahkan Weda ke dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) yang dipelopori oleh Raja Dharma Wangsa Teguh dengan membahasa jawakan ajaran Weda oleh Rsi Wyasa yang masuk ke Indonesia yang kita kenal dengan proyek Majawakan abhayasamata. Dijadikanlah Weda itu dalam kekawin, tutur dan kekawin yang indah sehingga mudah diterima dan dipahami oleh Umat Hindu dulu dan sekarang dengan bahasa jawa kuno.

Dharma gita juga berfungsi untuk menyebarkan ajaran Weda atau membumikan ajaran Weda di nusantara. Artinya bahwa dengan mempelajari Weda berarti kita telah melestarikan ajaran Weda. Umat selanjutnya bisa memahami ajaran Agama Hindu. Perlu kita ketahui bahwa Agama Hindu di Indonesia adalah perjumpaan antara ajaran leluhur dengan ajaran Weda dari India. Leluhur kita mempunyai kemampuan dalam hal mendengar (srawanam), menulis (smertI dan melihat (darsanam). Beliau sangat hebat dan tidak menjiplak atau plagiat terhadap Weda. Beliau mendengar sendiri Sabda Brahman yang merupakan ajaran Weda kemduian ditulis dalam lontar-lontar yang kita warisi di Jawa dan di Bali sampai sekarang. Karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Tetapi karena kita dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun maka tidak heran jika banyak susastra suci Weda kita yang ada di Belanda tepatnya di Leiden University. Untuk kita tidak boleh membenci Weda sebagai warisan leluhur, apalagi menyalahkan leluhur dan mengatakan Hindu itu sulit dan sebagainya. Kita bisa kena tulah oleh leluhur. 

Karakter keunikan Weda di Indonesia berbeda dengan Weda di India. Kita diwarisi Bhagavad-Gita dan Sarasamucacaya yang merupakan aliran atau cabang dari Weda. Bahkan Bhagavadgita dikenal sebagai Pancama Veda atau Weda yang ke-lima. Sarasamuccya adalah termasuk Kitab Nibhanda yang isinya setara dengan Weda yang sangat bagus untuk pedoman perilaku umat Hindu khususnya generasi muda untuk melaksanakan dharma dan memilih teman pergaulan di jaman skearang ini.

Secara umum Weda ada 2 (dua) yaitu sruti dan smerti. Kitab Weda Sruti ada Kitab Brahmana, Upanisad, Mantra dan Aranyaka. Sedangkan Kitab Weda Smerti terbagi menjadi Upaveda, Upangga Veda, dan Wedangga. Inilah kekayaan Agama Hindu yang banyak sekali yang mungkin sulit untuk kita dipahami. Makanya Weda dipelajari secara bertahap dengan membaca Itihasa dan Purana agar tidak bingung. Kemudian Weda dijadikan pedoman perilaku umat Hindu. Apa yang terdapat dalam Weda tidak akan ada dalam kitab lain, dan apa yang ada di kitab suci agama lain pasti ada dalam Kitab Suci Weda. Inilah kelebihan Kitab Suci Weda yang harus kita pelajari dan kita ajarkan kepada anak-anak kita.

Terakhir Made Surada menegaskan bahawa sebagai genarasi muda harus mebudayakan gemar membaca Weda dengan belajar sloka, palawakia dan kekawin baik di rumah, di pura atau di banjar-banjar. Kita harus paham betul permasalahan ini. Jangan sampai tradisi ini terputus. Maka ada lomba Utsawa Dharma Gita sebagai media pelestarian seni baca kitab suci Weda. Kita harus berterima kasih kepada pemerintah sebagai guru wisesa dalam hal ini Ditjen Bimas Hindu Kmeneterian Agama RI yang menggagas pelaksanaan lomba Utsawa Dharma Gita ini sehingga generasi muda giat berlatih tidak hanya di Bali tetapi di seluruh Indonesia.

Dharma gita adalah sebagai bhakti maka kidung tidak bisa digantikan dengan suara music dari mp3 player dan sebagainya. Contoh karena malas mekidung kita putar saja CD/VCD kidung sampai habis.Hal ini tidak benar kecuali hanya untuk tujuan seni dan keindahan sambil kita ngayah di pura misalnya. Tetapi saat upacara yajna sebisa mungkin harus suara live atau dari mulut kita bukan dari mp3 palyer dan lain sebagainya.

Bhakti harus muncul dari pikiran gerak dan ucap kita. Tidak semua kita serahkan permangku saja dalam berdoa. Kita berbuat untuk diri sendiri dan juga orang lain. Saat pemangku mepuja maka kita juga harus mengkidung apa yang kita bisa dan apa yang kita milikki. inilah keunikan agama Hindu yang di agama dan tempat lain tidak ada. Mari kita pahami secara mendalam konsep dharma gita ini. Jangan cepat menyalahkan leluhur dengan mengatakan Hindu ribet, Hindu susah  agar kita tidak disebut alpaka guru dan kena tulah dari leluhur. Seperti yang disampaikan di atas bahwa leluhur lebih  pintar dari kita. Beliau sudah tahu apa yang akan terjadi 500 tahun kemudian. Akhirnya mari kita pelihara dan kita lestarikan dharma gita sebagai bentuk Rsi Yajna dan penghormatan kepada para maharsi dan leluhur (pitra yajna). Janganlah beragama Hindu yang ribet tetapi beragama dengan penuh rasa dan keindahan, sederhana agar tercipta kebahagian lahir batin menuju loka samgraha atau sebuah tempat yang damai di dunia ini melalui dharma gita untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. (ep2017)

Kamis, 09 Februari 2017

Paparan Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI pada Acara Rakor Perencanaan Bimas Hindu


Pada hari ke-3 pelaksanaan kegiatan Rakor Perencanaan Pusat Daerah, dan Perguruan Tinggi Agama Hindu 2018, Kamis, 9 Pebruari 2017 di Hotel Grand Pasundan Kota Bandung, H. Hilmi Muhammadiyah selaku Sekretaris Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama RI berkesempatan memberikan paparan kepada peserta rakor yang hadir. Mengawali paparannya, Sekretaris Itjen menjelaskan visi dan misi Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI. Adapun visi Itjen adalah Menjadi Penegak Integritas dan Akuntabilitas Kementerian Agama. Sedangkan misi Itjen adalah 1. melakukan pengawasan fungsional secara profesional dan independen, 2. melakukan penguatan sistem pengawasan e-audit yang efektif dan terintegrasi, 3. meningkatkan pelayanan administrasi pengawasan yang cepat, tepat, dan akurat berbasis teknologi informasi, 4. meningkatkan akselerasi penyelesaian tindak lanjut pengawasan dan pengaduan masyarakat, 5. meningkatkan kompetensi dan integritas aparatur pengawasan, 6. meningkatkan peran konsultan dan katalisator bidang pengawasan, 7. meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait, dan membangun sistem pencegahan dini melalui Pengawasan dengan Pendekatan Agama (PPA) dan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi, Bersih, Melayani (WBBM).
”Fokus kerja Itjen ditekankan pada penegakkan Integeritas dan Akuntablitas Laporan Keuangan”, jelas Hilmi mengawali pembicaraanya. Selama 10 tahun terakhir ini ada indikasi semakin meningkatnya kepatuhan Aparatur Sipil Negara (ASN) terhadap Peraturan Perundang-undangan. Kalau di era lama masih banyak ASN yang sering terlambat datang di kantor,  pulang cepat dan tidak disiplin. Kalau sekarang sudah banyak pegawai yang datang tepat waktu datang 07.00 pulang jam 16.00 walau masih ada juga yang terlambat dan pulang lebih cepat dari jam yang telah ditentukan. Hal ini terjadi karena ASN dituntut oleh perubahan dan keadaan yang memaksa ketaatan ASN. Jika ASN tidak mengikuti perkembangan peraturan, maka mereka akan tereliminasi dengan sendirinya. Tetapi perlu diingat bahwa ketepatan waktu harus diikuti dengan kinerja yang maksimal sesuai yang tercantum pada Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan Perjanjian Kinerja (Perkin) yang dibuat oleh masing-masing ASN. Masih Banyak ASN yang datang jam 07.00 lalu duduk dan tidak berkinerja lalu pulang jam 16.00. Ini tentunya kegagagan dalam membina ASN dan bertentangan dengan semangat revolusi mental serta 5 (lima) budaya Kerja Kementerian Agama RI yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.

Kemajuan yang kedua adalah meningkatknya kinerja ASN seperti penyuluh, dosen, guru, pengawas, dan JFU. Hal ini terlihat dari meningkatnya output dan outcome dari kegiatan. Realisasi tercapai dengan maksimal walau tidak 100%. Hasil belajar siswa dan mahasiswa meningkat. Dari segi integritas sudah cukup baik, hanya saja masih dijumpai ASN yang melanggar etika seiring dengan naiknya kesejahteraan ASN karena ada tunjangan Kinerja (tukin). Banyak kasus di daerah, hal ini ini juga menjadi perhatian Inspektorat selaku pembina dan pengawas ASN.

Kemajuan selanjutnya adalah meningkanya akuntablilitas kineja Satuan Kerja (Satker) di lingkungan Kementerian Agama. Menurut Hilmi, akuntablitas kinerja bisa diukur dengan laporan kinerja dan laporan kegiatan. Panitia kegiatan harus segera membuat laporan pertanggung jawaban kegiatan walaupun auditor belum akan memeriksanya. Tinggalkan budaya lama di mana kita sering mengulur-ulur waktu yang ada. Dalam melakukan audit, Itjen juga pernah menjumpai laporan fiktif,  dan yang bersangkutan akhirnya diproses oleh Kejaksaan. Kasusnya adalah laporan kegiatan disusun rapi tetapi kegiatan tidak dilaksanakan. Itjen sebenarnya telah memberikan pembinaan sebelum diekspose oleh media sehingga tidak mengurangi reputasi Kementerian Agama.

Kepatuhan terhadap Standar Biaya Masukan (SBM) yang ditetapkan oleh Kementeriann Keuangan RI dan Standard Biaya Umum (SBU) dari Kementerian Agama juga semakin meningkat. Kualitas kompetensi ASN dan dosen juga meningkat. Hal ini terjadi  karena Kementerian Agama juga rutin memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat) secara sistematis dan berkala kepada mereka. Tetapi perlu diakui bahwa temuan-temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia banyak yang disebabkan karena kesalahan prosedur dan kelebihan dalam penggunaan anggaran yang diatur oleh SBM Kementerian Keuangan RI. Misalnya panitia kegiatan adalah 10% dari jumlah peserta. Hilmi mencontohkan jika peserta kegiatan 50 maka panitia jumlahnya 5 orang. Selanjutnya sesuai catatan BPK RI adalah terkait pemberian honor narasumber dan panitia kegiatan.  Misalnya narasumber berbicara 2 jam diberikan honor 3 jam. Ini melanggar dan tidak sesuai dengan Peraturan yang ada. 

Inilah tugas Inspektorat Jenderal menurut Hilmi Muhammadiyah yaitu menjadi penegak integritas dan menegakkan akuntabilitas yang kami breakdown melakukan pengawasan dengan amanat Peraturan Menteri Agama R.I. (PMA) Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama, yaitu melaksanakan pengawasan internal di lingkungan Kementerian Agama.

Itjen juga melakukan pengawasan di bidang perencanaan anggaran. Hilmi menjelaskan dengan gamblang bahwa sikluas kegiatan kita dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pelaporan/evaluasi kegiatan. Tahapan ini harus menjadi siklus yang yang komprehensif dalam kegiatan masing-masing satker. Hilmi berpesan jangan ada Satker yang tidak mau dilakukan pengawasan terhadap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, laporan pertanggung jawaban. Satker juga harus melakukan evaluasi kegiatan sehingga dianggap kinerjanya dianggap selesai secara keseluruhan.

”Anggaran yang saudara susun akan diverifikasi oleh Itjen sebagai bagian dari Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP)”, tegas Hilmi. Itjen akan melakukan reviuw awal terhadap RKA-K/L untuk menghindari resiko yang mungkin saja bisa terjadi. Penyusunan anggaran harus berpedoman SBM Kementerian Keuangn RI, SBU Kementerian Agama RI, Rencana Strategis (Renstra) dan Perjanjian Kinerja (Perkin). Dalam hal ini Itjen akan bekerjasama dengan Biro Keuangan Kementerian Agama RI, Kementerian Keuangan, dan Bappenas dalam melakukan reviuw RKA-K/L untuk memastikan semua sesuai prosedur dan ada kesesuaian RKP dan sasaran kinerja yang ditentukan oleh masing-masing Satker di Kementerian Agama. Tujuan reviuw RKA-K/L adalah menjamin kebenaran, Kelengkapan dan kepatuhan Satker terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Hilmi berpesan kepada peserta rakor untuk berkonsultasi kepada Itjen jika ragu-ragu dalam melakukan eksekusi anggaran dan kegiatan. Itjen terbuka memberikan pelayanan konsultasi. Bila perlu itjen akan melakukan pendampingan.

Tahun 2017 Itjen kami merubah paradgima pemeriksaan. Kalau di era lama fungsi dan peran Itjen adalah mengungkapkan temuan dan reaktif maka sekarang adalah sebagai konsultan, sebagai katalisator, memecahkan masalah dan pro aktif. Dari pengungkap temuan menjadi pemecah masalah, dari post audit menjadi post dan pre audit, dari dari yang korektif menjadi korekttif preventif, dari pendekatan win lose menjadi win-win solution. Tetapi perlu dicatat bahwa win-win solution bukan berarti melakukan negosiasi kasus.

Itjen sangat terbuka untuk melakukan pendampingan dan konsutasi. ”Jadi silahkan jika ada hal-hal yang sekiranya ada hal-hal yang bebhaya dan beresiko tinggi dan kita tidak berani eksekusi anggaran silahkan berkonsultasi dengan kami”, jelas Hilmi mengakhiri pembicaraanya. Itjen melakukan pengawasan yang humanis dengan indikatornya adalah bukan output tetapi juga prosesnya. Tetapi jika ada auidtor Itjen yangmasih kaku dan menerapkan budaya lama mohon dimaklumi karena merubah karakter itu memerlukan waktu dan proses. (ep17).



Selasa, 07 Februari 2017

Dirjen Bimas Hindu Gelar Rakor Pusat Daerah dan Peguruan Tinggi Negeri Hindu



Bertempat di Hotel Grand Pasundan, Bandung, Jawa Barat,  pada tanggal 7 s/d 10  Pebruari 2017, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI mengadakan kegiatan Rakor Perencanaan Pusat Daerah, dan Perguruan Tinggi Agama Hindu Tahun 2017 yang bersumber dari DIPA ditjen Bimas Hindu Pusat. Rapat Koordinasi ini diikuti lebih kurang 140 peserta yang berasal dari Ka-Kanwil Prov. Bali, Pempinan Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri (PTAHN), Ka-Kandepag/Kota se-Prov. Bali, Kabid/Pembimas Kanwil Kementerian Agama se-Indonesia, Ka Percan Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali, Kasi Kanwil kementerian Agama Prov. Bali dan Prov. NTB, Penyelenggara Hindu di Kab/Kota Se-Indonesia, penyuluh, dan Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Ditjen Bimas Hindu. Hadir pada kesempatan itu Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam, Dirjen Bimas Hindu, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Direktur Urusan Agama Hindu, Direktur Pendidikan Agama Hindu, Ka-Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kabag Tata Usaha. Acara Rakor dibuka secara resmi oleh Ditjen  Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Hindu Nomor 33 Tahun 2017 tanggal 9 Januari 2017 tentang Rakor Pejabat Pusat Daerah dan Perguruan Tinggi Agama Tahun 2017.

Adapun tema dari kegiatan ini adalah ”Rapat Koordinasi Pejabat Pusat, daerah dan perguruan tinggi negeri Agama Hindu 2018 Sebagai Wahana Memperkuat Perencanaan dan Penganggaran 2018 Berbasis Money Follow Program”. Dari Tema ini ada harapan sekaligus tantangan bahwa Bimas Hindu harus menciptakan perencanaan yang baik sehingga revisi anggaran bisa diminimalisir. Anggaran yang ditetapkan sesuai dengan keutuhan masyarakat, tepat guna dan tepat sasara. Acara ini bertujuan untuk melakukan koordinasi dalam rangka pengalokasian dan singkronisasi anggaran Program Bimbingan Masyarakat Hindu dalam rangka penerapan multi DIPA tahun 2018.

Di Awal acara pembukaan, Ida Bagus Manuaba selaku ketua Panitia rakor menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan gambaran dari sasaran program yang ditetapkan dalam Renstra Ditjen Bimas Hindu tahun 2015 – 2019 yang diwujudkan Bimas Hindu melalui kegiatan tahunan ini. Seiring dengan arah kebijakan reformasi Birokrasi di mana penyusunan Rencana Kerja (Renja) harus memperhatikan keterkaitan secara jelas antara perencanaan dan penganggaran yang merepresantasikan keselarasan arah kebijakan Direktorat. Maka dari itu kegiatan singkronisasi perencanan anggaran antara pusat daerah dan perguruan tinggi perlu dialksanakan setiap tahunnya agar penyusunan Renja dapat menjadi sarana dalam menetapkan langkah-langkah strategis untuk mewujudkan perencanaan program kerja secara komprehensif dan terintegrasi satker pusat dan daerah, dan perti dan pengelolaan uang negara yang lebih akuntabel serta peningkatan kualitas laporan tahunan. Tujuan selanjutnya adalah agar ada persamaan persepsi dalam rangka meningkatkan komitmen, mensukseskan program kerja Ditjen Bimas Hindu tahun 2015 – 2019 yang tertuang dalam Renstra Ditjen Bimas Hindu sehingga tidak terjadi duplikasi  antara fungsi anggaran serta tidak terjadi salah sasaran karena kurang akuratnya data yang dimilikki oleh Ditjen Bimas Hindu Pusat. Pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan koordinasi antara pejabat pusat daerah dan perguruan tinggi agama Hindu Negeri dalam mewujudukan perencanaan program kerja dan penganggaran dalam rangka mewujudkan program kerja secara komprehensif yang terintegrasi antara pusat dan daerah. Mendapat data perencanaan yang akurat untuk mengalokasikan angaran pusat dan daerah sesuai kebutuhan di daerah dengan skala prioritas agar selaras dengan Renstra Ditjen Bimas Hindu. Mengurangi revisi anggaran baik di Pusat maupun di daerah. 

Kemudian Kasubbag Tata Usaha pada Kanwil Kementerian Agama Jawa Barat menyampaikan permohonan maaf Ka-Kanwil yang tidak bisa hadir pada kesempatan ini karena sedang menyiapkan sambutan kedatangan Menteri Agama di Bandung pada waktu yang sama. Kabag TU berharap dari kegaiatan ini dapat melahirkan konsep dan gagasan di masa depan. Dan sebentar lagi Kanwil Jawab Barat akan melaksanakan rakor, Kabag TU berharap setiap unit Eselon I dapat memberikan masukan dalam perencanaan anggaran pada DIPA Kanwil Kementerian Agama Prov. Jawa Barat.

Sebelum membuka acara rakor, Dirjen Bimas Hindu menyampaikan kata sambutan kepada para peserta yang hadir di ballroom hotel. Dirjen menyatakan bahwa bangsa kita dari dulu berdaulat di darat, air dan laut, maka di era teknologi informasi ini kita harus berdaulat di media sosial. Ini tantangan bagi kita semua untuk melakukan perubahan yang positif. Semua Pejabat harus memanfaatkan teknologi seperti media sosial untuk mensosialisasikan kegiatan pembinaan umat Hindu di daerah masing-masing. Ditjen Bimas Hindu memberi apresiasi kepada Pembimas dan pejabat yang menggunakan media sosial untuk menyiarkan hal-hal yang positif bukan menyiarkan hujatan dan kebencian. Kita harus perkuat tim siar Ditjen Bimas Hindu. Dengan sarana ini kita akan bisa mengendalikan siar pembinaan umat.

Dirjen Berharap bahwa melalui rakor ini semua kegiatan dapat terakomodir dalam satu perencanaan. Setiap kegiatan harus berdasarkan perencanaan. Mulai dari perencanaan kita sudah diaudit oleh APIP dalam hal ini Itjen. Apa yang kita rencanakan itulah yang kita laksanakan dan kita evaluasi. Itulah management dengan variasi dan inovasi sesuai 5 (lima) nilai budaya kerja Kementerian Agama RI yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Yang paling penting dalam perencanaan adalah adanya  singkronisasi antara data data yang mendukung perencanaan dan penganggaran. Menteri Agama menyatakan bahwa data perencanaan itu masih harus perlu ditingkatkan. Dirjen berpesan agar revisi anggaran diminimalisir sebisa mungkin, dan kalaupun terpaksa dilakukan harus dilakukan di awal tahun dengan prosedur yang benar, sebab jika tidak sesuai prosedur, mengambil keputusan sendiri tanpa keterlibatan pimpinan maka akan dikenai sanksi.

Serapan kita juga harus maksimal. Realisasi Bimas Hindu tahun 2016 sebesar 93%, Menteri Agama menargetkan realisasi Kementerian Agama RI sebesar 98%. Tentunya akan ada reward dan funishment terhadap Satker seperti diturunkannya anggaran sesuai persetujuan Legislatif, DPR RI. Dirjen memberi apresiasi terhadap Pembimas seluruh Indonesia yang telah merealisasikan anggaran secara maksimal. Semua kegiatan yang kita laksanakan haru kita evaluasi. Di mana kelemahan kita? Bagaimana upaya memaksimalkan realisasi?. Tahun ini memang banyak self blocking yang berpengaruh terhadap realisasi semua Satker.

Perguruan Tinggi (perti) Hindu juga bisa bersinergi dengan Pembimas Hindu. Perti Hindu harus memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tujuan dari diadakanya kegiatan Koordinasi Perencanaan Pusat, Daerah dan Perguruan Tinggi Agama Hindu ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan tahun 2016 di setiap daerah, mendapatkan data perencanaan yang akurat, untuk melakukan alokasi anggaran yang tepat sasaran sesuai kebutuhan di daerah, menelaah kegiatan prioritas masing-masing daerah agar selaras dengan renstra, mengurangi revisi RKA-K/L yang berkali-kali di lingkungan Satker Ditjen Bimas Hindu, mengintegrasikan kegiatan Pusat dan daerah serta Perguruan Tinggi Agama Hindu (PTAHN), mengintegrasikan kegiatan pusat dan daerah serta perguruan tinggi agama Hindu negeri dan melakukan Singkronisasi Anggaran Pusat, daerah dan PTAHN tahun 2018.

Adapun materi dalam kegiatan ini adalah Tata Kelola Perencanaan dan Anggaran Berbasis Program pada Kementerian Agama yang disampaikan oleh Sekjen Kementerian Agama RI. Materi selanjutnya adalah Arah Kebijakan Dirjan Bimas Hindu dalam Pembangunan Agama dan Pendidikan Agama dan Keagamaan oleh Dirjen Bimas Hindu. Kemudian Evaluasi tahun 2016 dan Program Kerja Tahun 2018 Ditjen Bimas Hindu di bidang Agama, Pendidikan Agama dan Keagamaan, serta tata kelola Dukungan Manajemen oleh Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Direktur Urusan dan Direktur Pendidikan Agama Hindu. Dari Bappenas RI juga menyampaikan materi Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah Bidang Agama dan Pendidikan Tahun 2018. Pengembangan, Pembinaan dan formasi SDM Kementerian Agama

Kegiatan ini positif  karena merupakan media untuk  mengetahui permasalahan di daerah terkait serapan anggaran 2016. Di samping singkronisasi anggaran pusat dan daerah sehingga akan tercipta dokumen perencanaan yang bermutu untuk pelaksanaan anggaran Tahun 2017. Bantuan kepada masayarakat bisa lebih terukur, tepat sasaran dan akuntabel jika sudah direncana sejak saat ini. Saran untuk kegiatan ini adalah supaya kegiatan rakor ini dilaksanakan rutin dan ada tindak lanjutnya, menghasilkan rekomendasi dan di tahun depan kegiatan rakor harus fokus pada permasalahan rencana kerja dan anggaran agar tidak meluas dan tepat sasaran. (ep17)


Sabtu, 04 Februari 2017

Lokasabha III DPP PERADAH Kepulauan Riau



Pengukuhan Pengurus DPP Peradah Prov. Kepulauan Riau yang Baru Masa Bhakti 2017 - 2020
Batam-Pada Hari Minggu, 29 Januari 2017 bertempat di Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam jalan Gajahmada nomor 3, Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu (DPP PERADAH) Prov. Kepulauan Riau menggelar Lokasabha yang ke-3. Hadir Pada kesempatan itu Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, D Suresh Kumar selaku Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADAH, Parisada Prov. Kep. Riau, Parisada Kota Batam dan Ketua Lembaga keagamaan Hindu lainnya. Acara diikuti oleh sekitar 40 peserta dari DPP PERADAH dan 15 orang peninjau. Tujuan dari penyelenggaraan lokasabha ini adalah untuk memilih ketua yang baru masa bhakti 2017 – 2020.

Acara diawali dengan sambutan Ketua DPP PERADAH Prov. Kepulauan Riau, dilanjutkan laporan ketua panitia. Menurut Made Angga Dwi Pratama yang merupakan lulusan Fakultas Teknik UNUD ini menjelaskan bahwa acara ini terselanggara berkat bantuan dan kerjasama dari semua pihak. Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Kepulauan Riau yang diwakili oleh Ketut Artha juga berkesempatan memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya Ketut Artha memberikan apresiasi kepada DPP PERADAH Kepulauan Riau yang telah menyelenggarakan Lokasabha III ini. Parisada mengucapkan terima kasih kepada Ketua yang lama yang telah melakukan banyak perubahan dan kegiatan yang membangkitkan semangat umat. ”Pemuda di masa depan bisa menjadi role model pembinaan karakter siswa dan generasi muda, kalian akan dicontoh adik-adik kalian di pasraman,” ujar Ketut Artha. Ketut juga berpesan agar semua pihak bisa melaksanakan loksasabha ini dengan tertib dan damai. Siapapun yang terpilih menjadi ketua dan pengurus PERADAH Kep.Riau hendaknya dapat meneruskan program kerja yang sudah dijalankan oleh pengurus yang lama, dan alangkah baiknya ditingkatkan lagi. Semua umat dan anggota PERADAH harus mendukung ketua dan pengurus yang terpilih untuk bekerja agar solid dan menghasilkan sinergi yang baik. Sehingga semua kegiatan yang dibebankan kepada PERADAH dapat dilaksanakan dengan penuh semangat. ”Parisada Prov. Kepulauan Riau sebagai Majelis tertinggi umat Hindu siap membantu dan mendukung kegiatan DPP PERADAH Kepulauan Riau”, ujar Ketut Artha mengakiri sambutannya.

D Suresh Kumar selaku Ketua Dewan Pimpinan nasional PERADAH Indonesia dalam sambutan Suresh manyambut baik dan juga memberikan apresiasi pada panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini baik dari SC dan OC (panitia pengarah dan panitia pelaksana, red). Pertama-tama Suresh menyampaikan Visi PERADAH Indonesia yaitu: menjadi pusat pergerakan generasi muda Hindu Indonesia. Sedangkan Misi Peradah Indonesia menurut Suresh adalah membentuk para pemimpin muda Hindu yang profesional dan berintegritas yang kedua adalah menumbuhkan wirausaha muda hindu untuk mencapai kesejahteraan bersama. Semua ini tertuang dalam tujuan Peradah yaitu mewujudkan pemimpin dan wirausaha muda Hindu sebagai daya dorong pembangunan umat Hindu yang  berkelanjutan dalam rangka mendukung pembangunan bangsa.

Hal ini sejalan dengan 5 (lima) nilai keteladanan PERADAH yang menjadi dasar dan karakter organisasi  organisasi yang disebut dengan Panca Nayakarana, yaitu: Satya mitra yang artinya setia kawan dan membangun kerjasama yang baik, sadhana artinya melaksanakan disiplin spiritual yang baik, gemar bersembahyang, sevanam melakukan pelayan kepada umat, bukan minta untuk dilayani, Samskara yang artinya menjadi pelopor agen perubahan umat Hindu, dan yang terakhir adalah Santosa yang artinya bahwa menjadi pemuda Hindu itu harus bijaksana dalam membangun ketentraman, keharmonisan, dan kesejahtreraan umat Hindu.

Suresh menambahkan PERADAH sebagai wadah yang bisa menampung aspirasi dan semangat pemuda Hindu dalam berkarya. Jika semua pengurus memilikki integritas yang tinggi maka akan dapat membesarkan nama PERADAH di Kepulauan Riau. Pemuda Hindu juga harus menumbuhkan etos kerja dan terus belajar untuk meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi

Fokus kepengurusan DPN PERADAH 2015-2018 memang fokus pembinaan pemuda di daerah. Berbeda dengan era sebelumnya di mana kegiatan pembinaan PERADAH difokuskan di daerah. Pendidikan kepempimpinan daerah semacam Pakemda harus digalakkan di daerah sebelum Pakemnas pada tanggal 10 s/d 12 maret 2017 di Bali. Diharapkan ada 3 (tiga) perwakilan dari DPP Peradah Kepulauan Riau dari pengurus inti bisa hadir. Materi dan teknis acaranya sudah kami siapkan. Hal ini untuk pembekalan SDM Pemuda di Kepulauan Riau. Ada tiga jenjang pendidikan dalam Pakemnas ini, ada yang pemula, madya dan ahli.

Lebih lanjut Sures menegaskan bahwa berorganisasi itu tidak ada ruginya. Dengan berorganisasi maka mindset kita akan terbiasa memecahkan masalah dan bekerjasama dalam teamwork. Ini jarnag kita jumpai di meja kuliah. Dengan berorganisasi kita belajar bekerja sama, memecahkan masalah dan keberanian menyampaikan pendapat. Kita bisa lihat bahwa tokoh tokoh nasional Hindu dan tokoh Nasional kebangsaan lainnya berangkat dari organisasi seperti Bung Karno, Jusuf Kalla, Wiranto dan lain-lain. Kita terbiasa untuk melakukan problem solving. Orang yang sering berorganisasi akan dicari oleh perusahaan karena dia dianggap bisa bekerjasama dalam tim dan terbiasa menghadapi masalah. Dalam organisasi PERADAH kita belajar dan sekaligus melakukan pelayanan umat (learning by doing).

Menurut Suresh dengan sering kita melakukan pelayanan maka kita akan banyak memilikki investasi karma yang baik yang akan membantu kita di kehidupan sekarang atau di kelahiran yang akan datang. Dalam Agama Hindu kita mengenal Tapa, yajna dan Krti yaitu pengendalian diri, bersedekah dan berbuat baik atau investasi karma. Kita adalah generasi penerus dari lembaga-lembaga keagamaan Hindu seperti PHDI, WHDI, Prajaniti dan sebagainya. Tidak menutup kemungkinan kita juga bisa meneruskan kepemimpinan Dirjen Bimas Hindu, Menteri dan sebagainya. Pertanyaannya bagaimana kita bisa memimpin orang dengan baik jika kita tidak pernah belajar memimpin? Kemunduran Hindu terjadi karena kita tidak banyak mempunyai posisi penting di negeri ini. Kita masih sedikit pula mempunyai pemimpin di level nasional. Akhirnya suara kita jarang didengar oleh pusat. Ini menjadi PR kita bersama untuk melakukan kaderisasi. Suresh membuka secara resmi Lokasabha III DPP Peradah Kepulauan Riau dengan harapan acara berjalan lancer dan menghasilakan pemimpin yang baru yang mebawa perubahan DPP Peradah Kepri ke arah yang lelbih baik.

Selanjutnya acara dillanjutkan dengan agenda pemilihan pemimpin ketua sidang yang dipercayakan pada Ni Putu Resi Deepseani. Dan agenda selanjutnya adalah mendengarkan laporan pertanggung jawaban dari ketua DPP PERADAH Kepri Yang lama, Ni Luh Putu Desy. Selama kepemimpinannya Putu Desy telah banyak membawa perubahan bagi pemuda Hindu di Kepulauan Riau ke arah yang lebih baik. Dan Forum lokasabha menerima pertanggung jawaban Ketua. Dilanjutkan dengan sidang komisi. Terbagi menjadi 3 (tiga) komisi yaitu Komisi A membahas tentang induk organisasi  dan struktur organisasi dan mekanisme kerja, komisi B membahas rekomendasi internal dan eksternal dan Komisi C membahas Kriteria bakal calon ketua dan tata cara pemilihan ketua DPP Peradah Kepulauan Riau masa bhakti 2017-2020. Dan akhirnya Lokasabha III ini berhasil melahirkan pemimpin DPP Peradah kepulauan Riau yang baru yaitu Made Dwi Angga Pratama sebagai Ketua Umum, Ni Wayan Yuli Astuti sebagai Sekretaris Umum dan Ni Putu Resi Deepseani sebagai bendahara umum. Untuk formasi yang masih kosong, tim formatur DPP Peradah Kepulauan Riau akan mengadakan pertemuan khusus untuk hal ini. Ketua yang terpilih dilantik secara resmi oleh Ketua Umum DPN Peradah Indonesia, D Suresh Kumar dalam sebuah Surat Keputusan nomor 12/SK/DPNPERADAHINDONESIA/I/2017 tanggal 29 Januari 2017 disaksikan rohaniawan yaitu I Putu Satria Yasa. Prosesi ini menjadi kidmat manakala pengurus yang dilantik mencium bendera merah putih dan bendera Peradah Indonesia sebagai bentuk setia dan taat pada NKRI dan menjaga nama baik Peradah Indonesia.
(ekovanjava2017)