Rabu, 06 September 2017

Umat Hindu Kota Batam Gelar Perayaan hari Suci Tumpek Landep

Bertempat di Halaman Utama Mandala Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam, umat Hindu Kota Batam menggelar Persembahyangan bersama guna memperingati hari suci Tumpek Landep. Hadri pada kesempatan itu penyelenggara Hindu dan ketua Lembaga agama/keagamaan baik tingkat Provinsi Kepulauan Riau maupun Kota Batam. Ada hal yang berbeda dari perayaan tumpek Landep tahun ini di mana master ceremony (MC) dibawakan oleh I Gusti Ngurah Prayata Anom yang notabene usianya masih sangat muda dan baru duduk di kelas 7 SMP. Ini adalah upaya kaderisasi yang dilakukan oleh Umat Hindu Kota Batam, khususnya Banjar Nagoya. Pada kesempatan itu Wayan Jasmin selaku Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau membawakan dharma wacana dengan topik makna hari suci Tumpek Landep dan manfaatnya dalam kehidupan kita.

Seperti biasa, Tumpek Landep selalu diawali dengan memprayascita semua benda – benda hasil karya pikiran manusia, mulai dari keris, kedaraan, senjata untuk bertani, hingga laptop. Ini merupakan fenomena yang terjadi sekarang ini.

Tumpek Landep adalah saat di mana Ida Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa-Nya sebagai  “Pasupati” atau “Siwa Pasupati” itu sendiri. Pasupati itu terdiri dari pasu yang berarti jiwa atau binatang, juga berarti kehidupan, dan pati adalah penguasa, jadi “Pasupati” adalah penguasa kehidupan/binatang, binatang di sini melambangkan nafsu indria, maka jangan heran jika dalam gambar dewa Siwa dhyana itu duduk dengan kulit harimau, artinya beliau mengajarkan kepada kita dalam hidup harus menguasai panca indra, jangan kita dikuasai oleh panca indra pemuas nafsu kita. Pada hari Tumpek Landep, Siwa sebagai Pasupati menganugerahkan jnana atau ketajaman pikiran (landeping idep), ketajaman perkataan(landeping wak), dan ketajaman perbuatan (landeping laksana). Pikiran dipertajam dengan ilmu, tapa brata yoga Samadhi, perkataan ditajamkan dengan menata  pembicaraan, dalam filsafat jawa ada istilah “ajining dhiri ono ing gebyaring lathi” harga diri manusia ada pada kata-katanya. Perbuatan ditajamkan dengan pergaulan, harmonisasi.  dari kelima hari ini ada kaitanya yaitu manusia diarahkan untuk melakukan penebusan dosa, setelah dimurnikan maka diberikan ilmu pengetahuan pada hari Saraswati dan pada tumpek landep yang berbarengan dengan purnama ditajamkan kembali. Sepulang dari pura Bapak Ibu bisa melukat di rumah dengan tirta pasupati yang telah disiapkan oleh panitia, yang berisi bunga, dan yang polos adalah tirta amerta, atau Bapak Ibu bisa menggunakan air kelapa gading, karena di hari suci purnama air kelapa gading diyakini akan dapat memberishkan segala kekotaran batin baik diberi mantra maupun tidak.

Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam.

Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai - nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk .

Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah memperingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi.

Namun seiring perkembangan zaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya.

Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.  

Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran - ajaran agama. Pada rerainan tumek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan - pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.

Jadi sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan hanya rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manusia. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja. Jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambah namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut.

Dalam lontar Agastya Parwa dijelaskan telah terjadi percakapan anatara sang Dredasyu dengan Bagawan Agastya begini bunyinya: “ wahai Guru mulia, Perbuatan mulia apakah yang membuat seseorang mencapai keutamaan hidup baik di dunia maupun setelah mati?’ kemudian Bahgaan Agastya menjawab: wahai Sang Drdhasyu, ada 3 hal yang memungkinkan seseorang mencapai keutamaan hidup, adalah ulah, sabda dan ambek (perbuatan, perkataan dan pikiran), akibat yang dihasilkan oleh pikiran lebih besar daripada perkataan, dan perkataan lebih berat dari pada perbuatan, demikian juga sebaliknya dosa yang dihasilkan oleh perbuatan yang disertai kesadaran pikiran lebih besar daripada yang tidak menggunakan emosi pikiran. Untuk itu disaran seorang spiritual itu diharapkan dapat berpikir baik. Pikiran itu tajam, bisa jadi teman bisa jadi lawan, waspadalah, waspadalah!!!!

Kemudian Bhagawan Agastya menambahkan lagi ada tiga hal lagi yang harus dipegang oleh umat manusia yaitu: tapa, yajna dan krti, tapa lebih ditekankan ke pengendalian indria, selalu seimbang walau dihina dan dipuji, jangan kita senang lihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Ini negative sekali. yajnya berarti korban suci yang tulus ikhlas, mari kita lestarikan upakara yajna yang berlandaskan sastra suci sebagai bentuk pelestarian dan pembumian ajaran Weda, yajnya sebagai kamadhuk atau sapi perahan yang membuat hidup sejahtera, Karena dengan yajnya hujan dan kemakmuran itu ada, di mana suatu daerah tidak ada yajnya maka daerah itu akan kering/tidak subur. Penglingsir kita begitu agung mewariskan ajaran yajnya, seperti Mpu Kuturan, Dhahyang Nirarta, Mpu Markandeya, dsb. Kemudian krti adalah perbuatan baik dengan membangun fasilitas umum seperti pura, pasraman sekolah, dll, krti bisa  sebagai investasi karma. Ketiga hal ini di masyarakat menimbulkan prawerti dan niwerti marga yang artinya bahwa jalan jnana dan bhakti itu selalu ada dan berdampingan, jangan kita mengartikan bahwa prawerti itu jalan bagi yang jnananya rendah, dan niwerti bagi yang jnananya tinggi, di hadapan Tuhan semua sama yang membedakan adalah kualitas bhakti, ikhlas dan tidaknya.


Disduk Kota Batam Menggelar Kegiatan Sosialisasi Peningkatan dan Implementasi Cakupan Kepemilikkan Akta Perkawinan dan Akta Perceraian serta Pelayanan Terpadu dalam Pelayanan Pencatatan Sipil

Pada hari Rabu, 6 September 2017 bertempat di Hotel Best Western Panbil, Kota Batam, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam mengadakan Sebuah Kegiatan Sosialisasi Peningkatan  dan Implementasi dan Cakupan Kepemilikkan Akta Perkawinan dan Akta Perceraian serta Pelayanan Terpadu dalam Pelayanan Pencatatan Sipil. Dari Kementerian Agama kota Batam hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Bimas Hindu, Penyelenggara Buddha, Bimas Islam, dan KUA Batam Kota.  

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas kependudukan Kota Batam yang baru, Said Khaidar. Dalam sambutannya Said Khaidar berkomitmen mengajak seluruh pegawai di Disduk Capil untuk mewujudkan pelayanan prima dan menghindari praktik pungli. Disduk Capil akan melakukan perubahan dan peningkatan sarana dan prasarana untuk menunjang kenyamanan dalam pelayanan dokumen Catatan Sipil. “Semua bentuk pelayanan catatan sipil tidak dipungut biaya, jadi jika ada masyarakat yang menemukan praktik pungli mohon untuk segera melaporkannya”, tegas Said Khaidar mengakhiri sambutannya.

Selanjutnya acara dilanjutkan paparan materi yang disampaikan oleh Kementerian dalam Negeri RI dengan materi Peningkatan dan Implementasi Kepemilikan Akta Perkawinan Dan Perceraian. Sedangkan dari Disduk Capil Kota Batam yang menyampaikan materi dengan topik Penyelenggaraan Pencatatan Peristiwa Perkawinan Dan Perceraian Tindak Pidana Yang Diatur Dalam Kuhp Terkait  Dengan Perkawinan Dan Perceraian. Terakhir adalah materi Pelayanan terpadu dalam Pencatatan Sipil. Menurut narasumber banyak kendala yang dihadapi di lapangan terkait pencatatan sipil. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya dokumen catatan sipil sehingga masyarakat tidak terlambat dalam mengurus dokumen tersebut, karena kita tahu betapa pentingnya dokumen tersebut sebagai contoh adalah akta kelahiran yang tetap akan kita gunakan sampai tua nanti. (ep)



Kamis, 31 Agustus 2017

Sosialisasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah

Tanjung Pinang-Bertempat di Aula Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, pada tanggal 29 sampai dengan 30 Agustus 2017, Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau mengadakan kegiatan Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Kegtiatan ini diikuti oleh Pejabat Pengelola Zona Integritas dan Satgas SPIP baik di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, kepala Kan- Kemenag se-Kep. Riau, ketua Tim Zona Integritas se-kep. Riau, Satgas SPIP se-kep Riau, dan Kepala Madrasah Negeri. Dari Batam sendiri hadir Plt. Kepala Kan-Kemenag, Penyelenggara Buddha, Penyelenggara Hindu, Kepala MAN Batam, dan Kepala MTsN 1 Batam.

Maksud dari Kegiatan Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Kanwil kementerian Agama Prov. Kepuluan Riau pada tanggal 28 s/d 30 Agustus 2017 di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau adalah member Pemahaman yang benar tentang PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP kepada ASN dan pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Sistem Pengendalian internal pemerintah (SPIP) di lingkungan Kementerian Agama se- Prov. Kepulauan Riau

Adapun Tujuan dari kegiatan Sosialisasi SPIP ini adalah mensosialisasikan PP nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP, menanamkan nilai-nilai 5 (lima) budaya kerja Kementerian Agama, melakukan valuasi penerapan SPIP di Kepulauan Riau, memberi pemahaman yang benar tentang dokumen rencana aksi SPIP, membentuk karakter ASN yang bersih dan melayani, inovatif, mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Kementerian Agama se- Kepulauan Riau dan mewujudkan revolusi mental bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah kepulauan Riau.

Upaya Kantor Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam men­yukseskan pelaksanaan pembangunan Zona Integritas dan pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mewujudkan visi misi Kementerian Agama serta mendorong tercapainya tujuan pembangunan Nasional.

Pada hari Senin, Penyelenggara hindu menyempatkan diri untuk melakukan koordinasi dengan Bagian Humas Kanwil kemenag kep. Riau Pembimas Hindu Kanwil Kemenag kep. Riau perihal pelaksanaan SPIP dan Pelayanan Publik pada Bimas Hindu dan mengamati Pelayanan Publik dan Pelayanan satu atap di Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau yang nantinya akan bisa diterapkan di kantor kementerian Agama Kota Batam.

Pada Hari Selasa, 29 Agustus 2017 kegiatan sosialisasi ini ini dibuka resmi oleh Kepala Kantor Wilayah kemenetrian Agama Prov. Kep. Riau. Namun sebelumnya Alpian selaku Ketua Panitia berkesempatan memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya Alpian selaku Ketua Panitia dari kegiatam ini menyatakan bahwa SPIP harus dilaksanakan di setiap satker mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi. Dasar dari pelaksanaan SPIP adalah Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang sistem Pengendalian Internal Pemerintah.

Dalam Undang – Undang Nomor I Tahun 2014 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 ayat (4)  dijelaskan bahwa Menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dgn SAP.

Sesuai amanah Pasal 58 ayat (1), UU No 1 tahun 2004  dinyatakan bahwa SPIP diperlukan untuk meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. SPIP yang kuat (strong SPIP), maka laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen bebas dari salah saji, antara lain tercermin adanya Sistem pencatatan/akuntansi yang baik, Sistem pelaporan yang baik, kemudian Sistem pencatatan aset yang baik sehingga  keamanan aset yang dimiliki  oleh SATKER, dapat dilindungi dari kemungkinan kehilangan/kerusakan/ kecurian dan Sistem reviu internal atas laporan keuangan oleh fungsi pengawasan intern.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang system Pengendalian Internal Pemerintah dijelaskan bahwa merupakan komitmen yang nyata dari pemerintah untuk memperbaiki akuntabilitas keuangan negara adalah resep agar tidak disclaimer dan mencegah penyimpangan (preventif)

Pembangunan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) harus dimulai dari terciptanya sistem pemerintahan yang bersih, melayani dan smart government merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Oleh karena itu, penerapan SPIP adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional.

Selanjutnya Ka-Kanwil kementerian Agama prov. Kepulauan Riau berkesempatan memberikan paparan kepada peserta perihal Evaluasi nilai audit kinerja Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Marwin Jamal melakukan evaluasi hasil audit kinerja yang dilakukan oleh Itjen Kementerian Agama RI.

Paparan selanjutnya dari BPKP Prov. Kepulauan Riau perihal Sosialisasi PP Nomor 60 tahun 2008 perihal SPIP dan Teknik penyusunan rencana Aksi Pelaksanaan SPIP.

Pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 narasumber dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI Jakarta menyampaikan materi perihal Teknik Penyusunan Dokumen dan pelaporan Pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah (SPIP) di Lingkungan Kementerian Agama dan Evaluasi pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah (SPIP) di lingkungan Kementerian Agama;

Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) adalah tugas kita bersama, bukan hanya pimpinan dan Satgas SPIP. SPIP sebenarnya sudah kita laksanakan dan melekat pada tugas dan fungsi kita. Setiap kegiatan dan pencarian anggaran yang kita lakukan harus memperhatikan factor tujuan, hasil dan resiko sehingga sangat penting dalam melakukan verifikasi data dan analisis resiko. Keterlibatan pimpinan juga sangat penting dalam pelaksanaan SPIP. Pimpinan harus berhati – hati dalam mengambil keputusan karena bisa berdampak pada pimpinan sendiri, seluruh ASN dan Satker. Pendelegasian tugas dan wewenang dari pimpinan kepada bawahan harus didasarkan pada asas kehati-hatian. Untuk itu perlu dilaksanakan monitoring, evaluasi dan tindak lanjut dari monitoring perihal pelaksanaan kegiatan dan realisasi anggara yang merupakan bagian dari SPIP itu sendiri.


Kegiatan ini sangat positif sehingga harus berkesinambungan serta ada evaluasi secara berkala. Itjen Kementerian Agama harus rutin ke daerah memberikan pembinaan selaku pengawas pelaksana SPIP yang tergabung dalam APIP. Semua pihak harus mendukung dan melaksanakan pengawasan kegiatan dan pencairan anggaran sebagai bagtian dari SPIP itu sendiri. Perlu ada pembinaan berkala dari Kanwil ke Kemenag Kota dan Kabupaten se- Kep. Riau. Dalam hal pengawasan SPIP di daerah. (ep)

Minggu, 27 Agustus 2017

Pembimas Hindu Ajak Guru mengabdikan Ilmunya di Masyarakat

Pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, bertempat di aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Pembimas Hindu Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau memberikan pembinaan kepada seluruh dewan guru Pasraman Jnana Sila Bhakti. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu, Penyuluh Agama Hindu, Ketua Lembaga Agama dan Keagamaan di Kota Batam serta Dewan Guru  Pasrmaan Jnana Sila Bhakti.

Jumlah Guru Agama Hindu di Prov. Kepulauana Riau hanya ada 3 (tiga) dengan rincian 1 (satu) orang PNS, dan 2 (dua) orang non PNS, masing – masing tersebar di Batam dan Tanjung Pinang. Jumlah ini sangat kurang bila dibandingklan jumlah siswa yang ada. Untuk itu Pembimas Hindu mengajak semua guru untuk ikhlas mengabdi demi kemajuan Hindu di masa yang akan datang. Pembimas Hindu mengajak guru – guru di pasraman untuk ikut aktif mendidik dan mebina siswa guna membentuk karakter siswa. Ketut Suardita mengajak agar guru menggunakan metode yang variatif dengan adanya keseimbangan teori dan praktek. Misalnya ada pelajaran membuat sesaji maka harus praktek membuat sesaji. Siswa juga harus dikenalkan dengan game-game/outbond agar terbiasa menyelesaikan masalah. “Mari jadikan Pasraman sebagai ladang bhakti kepada Hyang Widhi”, tegas Ketut mengakhiri pembinaannya.


Purwadi selaku Penyuluh agama Hindu juga memberikan pengarahan bahwa siswa akan mudah jenuh bila harus diberi teori saja, harus ada praktek dan pengenalan lingkungan. DI masa yang akan datang akan ada pertukaran guru dari Bintan ke Batam dan sebaliknya. Pembimas Hindu juga menjajaki adanya kemungkinan kerjasama dalam bentuk pembinaan dari Kampus IHDN dan STAHDN Jakarta. Kedua kampus ini bersedia mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Batam dan Pulau Bintan. Purwadi juga menjelaskan bahwa Jambore Pasraman yang sedianya akan dilaksanakan pada tahun 2018 diundur menjadi tahun 2019 karena pertimbangan anggaran dan faktor lainnya. Untuk itu Purwadi mengajak Guru – Guru Pasraman untuk memberikan penekanan khusus pada cabang lomba ini.

Rabu, 23 Agustus 2017

Umat Hindu Kota Batam Rayakan Hari Pagerwesi

Batam-Pada Hari Rabu, 23 Agustus 2017 bertempat di Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam, umat Hindu merayakan hari Suci Pagerwesi. Hadir pada kesempatan itu penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, ketua lembaga Agama dan keagamaan baik tingkat Provinsi maupun tingkat kota.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan bumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniawan maupun umat. Dalam sastra suci dijelaskan bahwa pada hari Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesthi Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Hendknya umat Hindu memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan hati dan pikiran laksana besi agar mampu membentengi diri dari pengaruh negatif di dunia ini. Di samping agar diberikan kekuatan mental untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat baik.

Hari suci ini merupakan rangkaian dari hari Suci Saraswati, hari di mana ilmu pengetahuan suci itu diturunkan oleh Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai Dewi Saraswati. Sehingga umat manusia yang dipenuhi dengan kegelapan bisa menjadi terang atau tercerahkan. Diharapkan umat Hindu kota setelah melaksanakan persembahyangan pada Hari suci Pagerwesi dikuatkan sradha (keimanan) dan bhaktinya.

Pada kesempatan itu I Made Kasa Astawa selaku Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti menyampaikan dharma wacana kepada umat yang hadir. Dalam Wacananya Made Kasa menjelaskan makna dari perayaan Hari Pagerwesi. Made juga mengajak umat Hindu untuk memagari diri dengan ilmu pengetahuan yang benar agar kuat seperti besi guna menghadapi kehidupan sehari - hari.(ep17).


Senin, 21 Agustus 2017

Umat Hindu Kota Batam Ikuti Upacara Banyu Pinaruh hari Suci Saraswati di Pantai Payung

Batam-Pada Hari Minggu, 20 Agustus 2017 jam 06.00 WIB pagi bertempat di Pantai Payung, Batu Besar, Kota Batam, Umat Hindu Kepulauan Riau menggelar upacara Banyu Pinaruh sebagai bagian dan lanjutan dari perayaan Hari Suci Saraswati. Upacara ini juga diikuti oleh siswa/siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti. Upacara ini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, dan ketua Lembaga Agama Keagamaan baik pada tingkat Prov. Kepri maupun Kota Batam. Upacara keagamaan ini diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan yoga surya namaskar dan meditasi yang dipimpin oleh Made Karmawan dan I Made Kasa Astawa dari Pasraman Jnana Sila Bhakti. Terakhir diisi dengan sesi game yang dipandu oleh Pemuda Hindu yang tergabung dalam organisasi DPP Peradah Kepulauan Riau.

Ditemui secara terpisah, Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu mengatakan bahwa Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air atau sari-sari, dan pinaruh atau pinaweruh berarti pengetahuan. Jadi Banyu penaruh adalah memohon sari-sari ilmu pengetahuan Kitab Suci Weda dari Tuhan Yang Maha Esa. sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. Umumnya dilaksanakan di laut atau di sumber air yang disucikan lainnya.

Kemudian Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu menambahkan bahwa Banyu Pinaruh juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu. Dalam Sastra suci dijelaskan “Amet sarining tirtha kamandalu ring telenging segara” yang artinya bahwa melasti bertujuan untuk menyerap sari-sari tirtha amerta (tirtha kehidupan) dari tengah-tengah lautan/segara). Dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109 dijelaskan:

Adbhirgatrani cuddhyanti
manah satyena cuddhyati,
widyatapobhyam bhutatma,
buddhir jnanena cuddhyati.

Artinya: 
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

Kegiatan rangakaian hari raya Saraswati kali ini ini berjalan dengan lancar dan sukses. Semua ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang dengan tulus ikhlas membantu dan saling bekerjasama.

Umat Hindu di Kota Batam begitu antusias mengikutinya. Harapannya semoga semua umat Hindu dapat merasakan manfaatnya berupa ketenangan batin, kesehatan dan kesejahteraan. (ep)



Umat Hindu Kota Batam Gelar Perayaan Hari Suci Saraswati

Pada hari Sabtu tanggal 19 Agustus 2017 bertempat di Pura Agung Amertha Bhuana, sekitar 200 orang umat Hindu di Kota Batam melaksanakan upacara persembahyangan dalam rangka Hari Raya Saraswati. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Ketua Lembaga agama dan keagamaan Prov. Kepulauan Riau dan Kota Batam. Upacara ini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha.

Perayaan ini dimaksudkan untuk memperingati hari turunnya ilmu pengetahuan suci yang dilambangkan dengan Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan wahyukan ke dunia untuk menyelamatkan kehidupan manusia dari kekegalapan. Memberikan bimbingan dan pedoman bagi kehidupan manusia.

Pada kesemapatan itu Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu berkesempatan menyampaikan dharma wacana/ceramah keagamaan yang membahas makna dari perayaan hari raya Saraswati dan korelasinya dengan kehipuan berbangsa dan bernegara. Eko mengatakan bahwa perayaan hari raya Saraswati selaras dengan tema HUT Kemerdekaan RI yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Indonesia Kerja Bersama. Artinya bahwa sudah saatnya kita mengabdikan ilmu pengetahuan yang kita mililkki untuk bekerja membangun bangsa dan Negara yang kita cintai ini. Setinggi apapun ilmu yang kita milikki pada akhirnya harus kita abdikan di tengah masyarakat, di samping kita harus tetap rendah hati.

Eko juga mengatakan bahwa mengapa ilmu pengetahuan dilambangkan dengan Dewi yang cantik? Artinya bahwa ilmu pengetahuan itu indah dan menarik. Ilmu Pengatahuan akan membuat pemiliknya menjadi menarik, disegani, berwibawa, terkenal dan membuat kesejahteraan. Tetapi ilmu pengetahuan harus dituntut dengan kejujuran, dan tidak gratis, artinya ada Guru Daksina yang harus diserahkan oleh seorang siswa kepada gurunya. Ada ilmu yang harus dirahasiakan ada yang tidak.


Eko mencoba mengutip Sloka dari Kitab Bhagavadgita dalam bentuk terjemahan Bahasa Indonesia: walaupun senadainya kita adalah makhluk yang paling berdosa, tetapi dengan perahu ilmu pengetahuan maka lautan samsara/kelahiran akan engkau seberangi. Artinya walu seorang penjahat sekalipun asalkan dia memilikki keteguhan hati untuk bertobat dan memilikki pengetahuan bagaimana menebus dosa dan berbuat baik maka dia akan dapat memperbaiki kualitas karmanya. “Tuhan akan memberikan pengampunan bagi mereka yang mau menyerahkan diri secara total walaupun penjahat sekalipun”, tegas Eko mengakhiri pembicaraannya. (ep2017)