Senin, 16 Oktober 2017

Penyelenggara Hindu Sambut Pemuda dari Pontianak dan Hadiri Dialog Pemuda Lintas Agama di Pemko Batam


Pada Hari Jumat, 13 Oktober 2017, Penyenggara Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam menghadiri Deklarasi Pemuda Kota Pontianak, Prov. Kalimantan Barat di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang. Kemudian pada hari Sabtu 14 Oktober 2017, Penyelenggara Hindu juga menghasdiri dialog pemuda lintas agama di Lantai IV Pemko Batam. Dasri Pasraman Jnana Sila Bhakti hadir sebanyak 50 (lima puluh) siswa dari tingkat SMP dan SMA/SMK.

Rombongan Kirab Pemuda dari Pontianak tiba di Bandara Hang Nadim jam 10.30 WIB. Rombongan disambut oleh Kepala Kan Kemenag Kota Batam dan Kabid Bidang Pemuda Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Kota Batam. Rombongan melakukan Deklarasi Pemuda Lintas Agama di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Prov. Kepulauan Riau. Rombongan melakukan doa bersama dan membaca kitab suci sesuai dengan agama masing – masing agama.

Tujuan Pembangunan Nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Pembinaan keimanan dan ketawaan generasi muda dewasa ini sangat diperlukan untuk membentuk karakter generasi muda Hindu yang beriman dan bertaqwa.

Seiring kemajuan IPTEK dan pengaruh budaya barat, minat generasi muda dalam hal membaca kitab suci turun. Hal ini ditandai dengan banyaknya indikator mulai dari banyaknya tingkat kenakalan remaja, pergaulan bebas dan bahkan penyalah gunaan narkoba.

Jika generasi muda mau dan gemar membaca kitab suci masing – masing agama maka diharapkan bisa membentuk karekter generasi muda bangsa untuk takut berbuat dosa dan selalu menjalankan perintah-Nya dan manjauhi segala larangannya. Maka kementerian Pemuda dan Olah Raga RI mengambil sebuah inovasi besar dengan melakukan Sosialisasi gerakan Pemuda gemar membaca Kitab suci. Dan pada tanggal 13 Oktober 2017 dilaksanakan di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Prov. Kepualuan Riau.


Maksud dari Kegiatan ini adalah untuk menanamkan kecintaan pemuda agama gemar membaca kitab suci. Tujuannya agar pemuda memilikki iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaanya.

Ruang lingkup dari kegiatan Deklarasi Pemuda di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang Tahun 2017 adalah penyambutan Pemuda Pontianak di Kalimantan Barat, deklarasi Pemuda gemar Membaca Kitab Suci di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, dan doa Bersama masing – masing agama dilanjutkan pembinaan mental oleh rohaniawan masing – masing agama.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa. Pemuda juga merupakan penerus perjuangan bangsa. Jika iman pemuda tidak dibina maka besar kemungkinan pemuda akan jatuh dalam perbuatan yang tidak benar. Untuk itu sosialasi Gemar membaca kitab suci sangat sesuai di era globalisasi seperti ini.

Kegiatan sangat positif, harus berkesinambungan dan harus ada tindak lanjutnya. Waktu pelaksanaan juga harus diperpanjang agar peserta merasakan dampaknya. Harus ada koordinasi yang lebih baik lagi dengan Kemenpora RI di bidang pembinaan generasi muda.






Jumat, 13 Oktober 2017

Pujawali Pura Satya Dharma, Muka Kuning Batamindo

Batam-Pada hari sabtu, 7 Oktober 2017, bertempat di Pura Satya Dharma Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Kota Batam, umat Hindu melaksanakan  upacara  keagamaan yaitu Piodalan/Pujawali yang bertepatan dengan rainan Tumpek Uduh. Pujawali/Piodalan adalah memperingati hari berdirinya sebuah pura sebagai rumah ibadah Agama Hindu dan juga merupakan sebuah pemujaan sebagai perwujudan bhakti kepada leluhur dan Hyang Widhi dalam berbagai manifestasi-Nya (Dewa Yadnya). Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kota Batam, Pengurus Parisada Hindu Prov. Kep. Riau, Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kep. Riau, Pengurus Parisada Hindu Kota Batam, Pengurus WHDI Prov. Kep. Riau, DPP Peradah Prov. Kepulauan Riau, Pengurus BPH Kep. Riau, Pengurus BOP Agung Amerta Bhuana, WHDI Kota Batam, Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti, Ketua Unit Kerohanian Hindu Batamindo (UKHB), serathi Banten dan Ketua Banjara se-Kota Batam.

Acara ini bertujuan untuk mengucapkan wujud terima kasih atas segala anugerah Hyang Widhi dan memohon kasih-Nya agar perlindungan dan keselamatan selalu menyertai kita. Acara dimulai dengan mecaru dilanjutkan dengan purwa daksina, mekalyas, gelar sanga dan tarian rejang dewa oleh ibu-ibu WHDI Kota Batam, kemudian persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pinandita/pemangku.

Pada sambutannya, Putu Suardika sebagai Ketua UKHB mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam upacara ini, sehingga upacara dapat terlaksana dengan baik dan dapat berjalan dengan lancar, meskipun hujan yang melanda kota Batam, tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah halangan untuk melakukan kewajiban sebagai umat Hindu. Putu Suardika juga menejlaskan makna Tumpek Wariga.

Selanjutnya, Katmiartik Selaku penyuluh Agama Hindu Kota batam, mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan dharma wacana/Siraman rohani dihadapan umat Hindu Kota Batam, pada awalnya katmiartik menjelaskan mengenai istilah Panca Sradha.

Panca Sradha artinya Lima Keyakinan Umat Hindu yang terdiri dari Percaya  adanya Brahman: Widhi Tatwa, Percaya  adanya Atman atau Atma Tatwa, Percaya adanya Karmaphala atau hukum sebab akibat, Percaya adanya Punarbhawa atau Samsara yaitu keyakinan pada kelahiran kembali, dan Percaya adanya Moksa artinya keyakinan bersatunya  Atman dengan Brahman. Itulah lima Dasar keyakinan Umat Hindu.

Sraddhaya Satyam Apnoti  sradham Satye Prajapatih

Artinya: Dengan sradha orang akan mencapai Tuhan, beliau menetapkan, dengan sradha menuju Satya. (Yajur Veda XIX .30)

Dalam Bhagavad Gita sendiri banyak  di sebutkan   mengenai keyakinan terhadap Tuhan Namun apakah benar Hindu itu hanya sebuah keyakinan semata?.

Di lihat dari nama asli Agama Hindu, yaitu Sanathana Dharma, kita mendapat sebuah istilah yaitu Dharma yang berarti  kebenaran. Dharma artinya kebenaran. 1 + 1 = 2 . Percaya tidak percaya , yakin tidak yakin , ragu tidak ragu , 1 tambah 1  tetap sama dengan 2. Jadi yang namanya kebenaran jika tidak di percayai, tidak di yakini, di ragukan atau  dipertanyakan ia tetaplah Kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.

Veda menyebut ajarannya dengan Sanatana Dharma atau Kebenaran abadi. Apakah memang benar ajaran Veda merupakan kebenaran?

Kita mengenal  salah satu ajaran kita yaitu Tri Kerangka Dasar Agama Hindu  yaitu Tatwa  atau filsafat, Susila yaitu Etika,  dan Upakara yaitu upacara keagamaan

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu  Philo dan Sophia. Philo artinya Cinta  dan Shopia artinya Kebijaksanaan. Filsafat artinya Cinta Kebijaksanaan. Seorang yang bijaksana akan berpikir sampai ke akar-akarnya, jika seorang berkata fitnah pada orang bijaksana, orang bijaksana tersebut tidak akan percaya  langsung melainkan akan mencari Kebenaran. Jadi jelas agama Hindu  mengajarkan kita untuk mencari kebenaran sampai keakar–akarnya.

Agama Hindu mengajarkan  kita untuk mencari kebenaran, berikut adalah ajaran- ajaran untuk mencari kebenaran dalam agama Hindu di luar keyakinan  semata yang pertama adalah Saksi (ada saksi yang melihat), bukti (dan atau tidak bukti kejadian), Likita (tertulis atau tidak). Yang kedua adalah Sastratah (mempertimbangkan berdasarkan sumber tertulis/sastra), Gurutah (mempertimbangkan menurut ajaran Guru), Swatah (mempertimbangkan  pengalaman sendiri). Yang ketiga adalah Agama (mempertimbangkan menurut ajaran Agama), Anumana (mempertimbangkan menurut pikiran sehat), Pratyaksa  (mempertimbangkan  apa yang di lihat secara langsung). Yang Keempat adalah Wartamana  (mempertimbangkan sesuai pengalaman dahulu), Atita (mempetimbangkan  keadaan sekarang), Nagata (Mempertimbangkan keadaan yang akan datang). Yang Kelima adalah Rasa (mempertimbangkan Perasaan), Utsaha  (mempetimbangkan atas perilakunya), Lokika (mempertimbangkan dengan pikiran logis). Yang keenam adalah Sabda (mempertimbangkan dengan memberi saran), bayu  (mempertimbangkan dengan keyakinan yang kuat), Idep (mempertimbangkan dengan Pikiran sehat). Begitulah  Rsi Narada saat mengajarkan Bhagavata Purana atau Srimad Bhagavatam pada Rsi Vyasa.

Terakhir Katmiartik juga menegaskan bahwa  Hindu mengajarkan kita  untuk mencari kebenaran itulah inti ajaran dasar agama yaitu Tattwa dan berbanggalah kita menjadi Hindu. (Naskah:Komang Sumi, Foto: Putu Suardika).


Rabu, 11 Oktober 2017

Pembinaan Mental ASN Oleh Menteri Agama RI dan Silaturahmi Tokoh Ormas Keagamaan

Bertempat di Wisma Kementerian Agama, Batam Center pada hari Jumat, 6 Oktober 2017, Menteri Agama RI memberikan pembinaan mental bagi ASN di lingkungan kementerian Agama Prov. kepulauan Riau dan Silaturahmi dengan Tokoh umat, Ketua Ormas se-Kep. Riau. Hadir pada kesempatan itu Pemibimas Hindu Kanwil kemenag Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kota Batam, Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau.

Dalam pembinaannya Menteri Agama mengajak ASN di Kementerian Agama untuk tulus dalam bekerja dengan selalu berpedoman pada 5 (lima) budaya Kerja Kementerian Agama yaitu Integritasm, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.

ASN harus menjadi pelayan yang baik. Tingkatkan budaya melayani, jangan minta untuk dilayani. Jangan tergoda menerima suap karena akan menghancurkan masa depan kita. Menteri Agama juga mengajak para ASN untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kepada para tokoh umat dan pimpinan ormas se-Kepulauan Riau, Menteri Agama mengajak semua Agama untuk memelihara tradisi baik berupa kerukunan dan persatuan oleh para pendahulu bangsa. Smeua agama pasii meletakkan dasar - dasar kehidupan yang baik. Tokoh umat harus mencegah konflik bukannya memicu konflik. kerukunan adalah modal berharga untuk membangun sebauh bangsa. (eko2017)

Doa bersama untuk kedamaian dan keselamatan saudara - saudara kita di Karangasem Bali. Semoga Tuhan melindungi kita semua.


Doa bersama untuk kedamaian dan keselamatan saudara - saudara kita di Karangasem Bali. Semoga Tuhan melindungi kita semua pada hari Minggu 24 September 2017 oleh Umat Hindu di Kota Batam.


Penyelenggara Hindu Menyambut Rombongan Sekolah dasar Charitas Kota Batam

Batam-Pada hari Kamis, 5 Oktober 2017, bertempat di Pura Agung Amerta Bhuna Kota Batam, Penyelenggara Hindu, Dewan Guru Pasraman Jnana Sila Bhakti dan BOP Agung Amerta Bhuana menyambut rombongan yang berjumlah sekitar 50 peserta dari kelas IV SD Charitas. 

Peserta berbaris rapi dan melepas sepatu saat masuk ke area Pura. Kemudian Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam memberikan penjelassan tentang fungsi pura dan sejarah pura Agung Amerta Bhuana dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Acara diakhiri dengan penyerahan cindera mata oleh SD Charitas kepada Pasraman Jnana Sila Bhakti dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Dewan Guru SD Charitas dan peserta sangat senang. Mereka berharap acara serupa akan terus dilaksana setiap tahunnya untuk memupuk jiwa persatuan bagi para siswa. (eko2017)

Ka-Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau Melantik Pejabat Administrator Dan Pengawas Dilingkungan Kanwil Kemenag Prov Kepulauan Riau pada Tanggal 3 Oktober 2017 Di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau

Tanjungpinang-Bertempat di aula Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Selasa, 3 Oktober 2017, Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepuaan Riau melantik pejabat administrator dan pengawas di ilngkungan kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Hadir pada kesempatan itu Seluruh pejbat eselon III dan IV di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau.

Maksud dari Kegiatan Acara Pelantikan Pejabat Administrator Dan Pengawas Dilingkungan Kanwil Kemenag Prov Kepulauan Riau ini adalah untuk mengangkat pejabat administrator yang baru dalam hal ini Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam guna mengisi kekosongan yang ada. Dengan dilaksnakannya pelantikan ini maka seorang pejabat dianggap sah untuk memimpin sebuah institusi. Kegiatan juga bertujuan untuk menanamkan nilai – nilai 5 (lima) budaya kerja Kementerian Agama, membentuk karakter ASN yang bersih dan melayani, inovatif, mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Kementerian Agama se- Kepulauan Riau dan mewujudkan revolusi mental ASN.

Acara diawali dengan Pembukaan dan pembacaaan SK Mutasi dan Promosi pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Kanwil kementeiran Agama Prov. Kepulauan Riau.

Kemudia dilanjutkan dengan Pengambilan sumpah jabatan pejabat administrator dan pengawas oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau yaitu Jarin seagai Pengawas di Kan Kemenag Kab. Lingga, M. Syafii sebagai sebagai Kabid Pakis di Kanwil Kemenag Kep. Riau, Drs. H. Lukman sebagai Ka-Kan Kemenag Kab. Karimun, Drs. H. Aprizal sebagai Kabid Bimas Islam, Drs. H. Herman Zarudin sebagai Ka-Kan Kemenag Kota Tanjung Pinang, H. M Nasir S.Ag, MH sebagai Ka-Kan Kemenag Kab. Bintan, H. Erizal sebagai Ka-Kan Kemenag Kota Batam.

Diakhiri dengan Pembinaan mental oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau. Beberapa poin penting dari pembinaan pegawai tersebut adalah bahwa mutasi dan promosi jabatan adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi. Mutasi jabatan bertujuan untuk menghindari kejenuhan saat bekerja. Jabatan adalah sebuah amanah untuk dijalankan. Jadi kita harus turun ke masyarakat dan merangkum semua elemen masyarakat. Jalankan kewajiban untuk mendapatkan hak sebagai seorang ASN. Laksanakan 5 nilai budaya kerja. Utamakan solusi kebersamaan jika ditemui masalah. Selesaikan dalam sebuah tim kerja.

Menurut Haji Marwin Jamal mutasi dan promosi jabatan adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi. Mutasi jabatan bertujuan untuk menghindari kejenuhan saat bekerja. Jabatan adalah sebuah amanah untuk dijalankan. Jadi kita harus turun ke masyarakat dan merangkum semua elemen masyarakat. Jalankan kewajiban untuk mendapatkan hak sebagai seorang ASN. Laksanakan 5 nilai budaya kerja Kementerian Agama yaitu integritas, profesionalitas, tanggung jawab dan keteldanan. Kita harus mengutamakan solusi kebersamaan jika ditemui masalah. Selesaikan dalam sebuah tim kerja.

Untuk mewujudkan sistem pemerintahan, birokrasi yang bersih dan melayani maka perlu ada keteladanan pimpinan yang menjadi panutan dari satuan kerja yang dipimpin. Jabatan adalah sebuah amanah yang yang harus dijalankan bukan untuk disalahgunakan. Menjadi pemimpin di masa sekarang ini tidaklah mudah. Di samping menguasai pengetahuan IPTEK, dan seni memimpin juga harus terjun ke masyarakat, melihat secara langsung perkembangan dinamika masyarakat. Terlebih ASN di lingkungan Kementerian Agama mempunyai kewajiban melakukan pembangunan di bidang moral dan akhlak masyarakat.

Mutasi dan promosi sebenarnya adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi jika tidak ada benturan kepentingan dan lain sebagainya. Tujuan dari mutasi  dan promosi jabatan adalah untuk meningkatkan semangat kerja ASN, menghilangkan kejenuhan dan memberi kesempatan bagi ASN yang lain untuk berkompetisi secara sehat. (eko2017)


Umat Hindu Batamindo gelar Upacara Ngeruak Bhuwana

Pada hari Sabtu 26 Nopember 2016 bertempat di Pura Satya Dharma, Muka Kuning, Kawasan industri Batamindo umat Hindu menggelar persembahyangan dalam rangka Upacara Ngeruak pembangunan pelinggih anglurah Pura satya Dharma. Hadir pada kesempatan itu Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kepulauan Riau, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM, Pengurus Parisada Prov. Kepulauan Riau, Pengurus WHDI Prov. Kepulauan Riau, Penyelenggara Bimas Hindu kantor Kementerian Agama Kota BatamIr. Ketua Parisada Kota Batam I Dewa Made Yudha Dewa, Ketua WHDI Kota Batam, Anak Agung Ketut Adi, S.Sn, Ketua Unit Kerohanian Hindu Batam Indo (UKHB) Ir. I Putu Suardika, ketua lembaga dan seluruh ketua Banjar se-kota Batam.

Dalam sambutannya Putu Suardika selaku ketua UKHB dan penanggung jawab acara menyatakan bahwa umat Hindu pada hari ini adalah umat yang terpilih karena berkesempatan hadir pada persembahyangan ngeruak pelinggih angluirah.

Putu Suardika juga menyatakan bahwa sudah saatnya umat Hindu di kawasan industri Batam Indo memilikki tempat suci yang berkualitas, sehingga tidak perlu ijin keluar kerja jika harus beribadah. Untuk itu perlu dibangun pelinggih anglurah untuk melengkapi media pemujaan umat Hindu di Pura Satya Dharma. Pembangunan penunggu karang atau anglurah ini juga akan menambah aura dan energi positif pura sehingga umat dapat merasakan dampaknya secara langsung sehingga pada akhirnya umat manjadi rajin ke pura serta meningkat sradha dan bhaktinya. Upacara Pangruwak atau Ngeruwak Bhuwana adalah upacara yang dilaksanakan sebelum membangun rumah baru maupun membuat bangunan suci sebagai permohonan kehadapan para bhuta kala agar mereka tidak mengganggu. Upacara ini dipimpin langsung oleh jro Mangku Putu Satriayasa dan jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Setelah rangkaian acara ngeruak dilanjutkan dengan mengukur lokasi bangunan tersebut dengan ketentuan Asta Kosala, Asta Dewa, Asta Bhumi, Asta Patali, sesuai dengan kegunaannya. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan persembahyangan oleh Umat Hindu yang  merupakan pengempon/penyungsung Pura Satya Dharma. 

Wayan Catra Yasa dalam kesempatan itu menyampaikan sejarah berdirinya Pura Satya Dharma. Pura Satya Dharma terletak di dalam kawasan industri Batamindo Mukakuning Batam, tepatnya di Dormitori Blok E no 5. Dimana tujuan pendirian pura ini adalah untuk memfasilitasi karyawan yang beragama Hindu yang bekerja di kawasan Batamindo shg mereka memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah. Pura ini berdiri pada suatu areal berukuran 100 m2. Pura ini selesai dibangun dan diplaspas pada tanggal 16 Juni 1994. Biayanya relokasi pura sepenuhnya ditanggung oleh Management Batamindo. Namun pengerjaannya dilakukan oleh umat Hindu yang bekerja di kawasan Industri Batamindo Mukakuning.


Wayan juga menyampaikan bahwa Umat Hindu harus bangga mempunyai tradiri luhur yang diwariskan oleh pendahulu kita. Kita haru memberikan pemahaman yang benar kepada anak dan cucu kita agar memahami apa itu arti ngeruak dan makna filosofis ngeruak. Ada nilai- nilai pendidikan budi pakerti yang sangat besar di dalamnya. Di mana anak-anak diajak untuk selalu menjaga sopan santun. Ketika kita masuk atau menempati daerah yang baru maka kita harus minta ijin dahulu. Ngeruak adalah salah satu upacara meminta ijin kepada ibu pertiwi untuk membangun pelinggih penunggu karang. (eko2016)

I Wayan Catra Yasa, Tokoh Hindu di Kepri yang pertama Meraih Gelar Doktor

Batam-Pada Hari Minggu,  di Pura Agung Amertha Bhuana tampak laki – laki setengah berjalan menenteng sebuah tas yang berisi laptop. Kemudian beliau turun ke aula Pasraman Jnana Sila Bhakti untuk memberi ilmu dan pengalamannya kepada siswa Pasraman asuhannya.

Siapakah dia? Dia adalah I Wayan Catra Yasa, bapak dari dua orang anak yang dilahirkan dari keluarga sederhana di pulau seribu pura yang sangat terkenal itu, yaitu pulau Bali. Lahir di sebuah dusun Poyan, Luwus, Baturiti, Tabanan pada tanggal 13 Maret 1966. Saat ini I Wayan Catra Yasa menjabat Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Provinsi Kepualauan Riau, dan juga duduk sebagai pengurus dana tau anggota Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Beliau juga penasihat dari lembaga agama/keagamaan Hindu di Kota Batam, Kepualuan Riau.

I Wayan Catra Yasa mengawali Pendidikan Formalnya di SD Negeri 03 Luwus, Baturiti, Tabanan-Bali, kemudian SMP Negeri I Baturiti, Tabanan, Bali. Dilanjutkan di STM Negeri I Denpasar-Bali, kemudian S1 Sarjana Pendidikan Fakultas Teknologi & Kejuruan IKIP Yogyakarta. Kemudian pendidikan S2 Magister Management di Universitas Terbuka. Pria dari dua anak ini juga baru saja menyelesaikan gelar S-3 nya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan predikat Magna Cum Laude.

Setelah proses belajar mengajar selesai, lelaki yang akrab dipanggil Pak Wayan Catra ini langsung bergegas menuju ke atas untuk kembali pulang. Penulis tidak menyia - nyiakan kesempatan yang sangat baik itu.

Penulis berhasil mewawancarai I Wayan Catra Yasa terkait kiprahnya di Kota Batam dan studi yang telah diselesaikannya. Berikut hasil wawancara penulis dengan I Wayan Catra Yasa.

Tahun Berapa Pak Wayan datang ke Kota Batam dan apa yang Bapak lakukan pertama kali?
Jawaban:
Saya datang di Kota Batam pada tanggal 26 September 1991, Bekerja di Perusahaan Amerika yaitu PT. Seagate technology. Sebenarnya perjalanan hidup ini terinspirasi ketika mengawali  studi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat itu saya berkumpul dengan mahasiswa Hindu lainnya dan bergabung dalam organisasi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia yang lebih kita kenal PERADAH. Setelah saya tiba di Kota Batam, waktu itu kondisi Umat Hindu di Kota Batam masih sporadic, belum mengenal satu dengan yang lainnya. Maka muncullah Inisiatif untuk berkumpul, bermusyarawah bagaimana cara membangun umat dan ini akan membuahkan hasil di masa yang akan datang.
Yang pertama saya lakukan adalah mengunjungi umat dari pintu ke pintu di Kawasan Industri Muka Kuning, Umat Hindu di perhotelan. Ada juga teman - teman yang bekerja di Sektor peternakan, BUMN dan lain sebagainya.

Dan Pada Tahun 1993 kami mendirikan sebuah Yayasan Satya Dharma walau tidak lama aktif. Tujuan mendapatkan lokasi mendirikan pura. Kemudian tahun 1994 mendirikan Yayasan Tirta Kamandalu dengan visi & misi untuk mendapatkan perizinan lokasi pura. 
Barulah pada Bulan Mei Tahun 1995 mendirikan Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam bersama tokoh Hindu saat itu dimana waktu itu Kota Batam masih menjadi bagian dari Prov. Riau.

Pada Tahun 1998 ketika bapak Drs. Ismeth Abdullah menjadi Ketua Otorita Batam. Dan perjuangan itu membuahkan hasil di mana pada tahun 1999 umat Hindu di Kota Batam diberikan lahan pura di Kawasan Sei Ladi yang sekarang telah berdiri pura dengan  nama Pura Agung Amerta Bhuana yang diresmikan oleh Menteri Agama RI yaitu Prof. Dr. Said Agil Husein Al Munawar, MA, pada tanggal 16 juni 2004.

Setelah umat Hindu memiliki rumah ibadah berupa pura, maka selanjutnya adalah mencari strategi menciptakan kerukunan baik internal maupun eksternal.

Maka pada tahun 1995 saya bergabung di Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Batam yang sekarang berubah nama menjadi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam berdasarkan PBM No.9 dan 8 Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Saya pernah menjadi Sekretaris Umum FKUB Kota Batam sampai tahun 2017 dan sekarang menjabat Ketua Bidang Penyiaran.

Saya ingin berkiprah dan berperan menjaga Batam agar tetap kondusif. Kita ketahui bersama bahwa Kota Batam bisa menjual aset Jasa dan para Investor sangat tergantung suasana yang aman di Kota Batam. Kerukunan merupakan investasi yang berharga di kota Batam. Jika kerukunan di Kota Batam terganggu maka investor tidak akan mau menanamkan modal di Kota Batam. Tujuan dari masuknya saya di kepengurusan FKUB juga Juga untuk pembinaan umat Hindu secara internal. Saya ingin menjadi sosok mediator bagi umat yang lainnya (pendamai). Itulah  alasan saya bergabung di FKUB. Singkat cerita saya mengambil pendidikan program Doktor di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Adapun judul Disertasi yang saya buat adalah Pengaruh Budaya Keluarga, Pengelolaan Konflik, Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama Terhadap Stabilitas kehidupan Masyarakat di Kota Batam.

Saya ingin mengetahui jawaban dari hipotesa yang saya buat yaitu bagaimana tingkat kerukunan umat beragama di kota Batam dalam hal menciptakan stabilitas kerukunan di Kota Batam. Bagaimana masyarakat hidup, dan merasakan ketenangan, aman, nyaman, tidak terganggu serta bebas melakukan aktifitas sosial.

Perihal Pengelolaan konflik, hampir semua orang berpikir bahwa konflik itu dalam artian phisik, bentrokan phisik. Maskud dari penelitian ini bukan bentrokan phisik, tetapi lebih kepada bagaimana mengelola, menjaga kerukunanan, manajemen konflik dimulai dari sebelum terjadi konflik, bukan setelah ada konflik terjadi kemudian mengobati.

Sejarah mencatat di tahun 2000 di Kota Batam memang pernah terjadi di mana masyarakat saling membenci satu sama lain, menyebar fitnah, menghina, dan menjelekkan satu dengan yang lainnya.  Hal ini yang harus kita cegah di masa sekarang dengan mengelola pendekatan persuasif kita. Saya kira cukup jelas.

Fakta yang kedua bahwa konflik yang terjadi di Kota Batam pada masa lampau itu terjadi atas dasar pendirian rumah ibadah. Ini adalah alasan klasik, bukan fanatisme umatnya tetapi permasalahan lahan yang menjadi pemicunya.

Di Kota Batam perizinan lokasi lahan diberikan oleh Otorita Batam yang sekarang berubah nama menjadi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) tetapi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dikeluarkan oleh Pemkot Batam.

Di komplek perumahan banyak kita jumpai Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial. Banyak orang mendirikan tempat ibadah di tempat umum (fasum) dan ada juga di ruko. Hal ini memicu konflik, dan FKUB sering menangani konflik ini.

Dari pengalaman inilah maka pengelolaan konflik sebelum konflik itu terjadi sangatlah penting. Fakta selanjutnya adalah Pada tahun 2017 ini ternyata masyarakat Kota Batam hidup rukun, hubungan antar umat beragama tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pengalokasian lahan. Yang kedua politik menjelang Pilkada.

Selanjutnya adalah Pengaruh budaya keluarga terhadap stabilitas kehidupan masyarakat. Semakin baik budaya keluarga maka akan semakin baik pula mengatasi konflik dan mengatasi stabilitas. Di dalam budaya keluarga ada beberapa tingkatan.

Yang pertama hubungan antara suami dengan istri, yang kedua adalah hubungan antara ibu dengan anak, kemudian hubungan ayah dengan anak, dan yang terakhir adakah hubungan antara  anak dengan  anak. Hubungan integritasi ini  semuanya terjadi dalam sebuah keluarga. Kita tahu bahwa keluarga adalah satuan masyarakat yang terkecil. Kualitas hubungan dalam keluarga inilah yang akan mempengaruhi pribadi/personal untuk selanjutnya akan berpengaruh pada bagaimana dia hidup dan berhubungan dengan masyarakat, dengan tetangga, dengan umat beragama. Dan terbukti di Kota Batam suasananya tetap kondusif. Masyarakat Kota Batam akan mengedepankan kondusifitasnya menuju Kota Batam sebagai bandar dunia yang madani. Penelitian ini akan direkomendasikan kepada pemerintah. Maka penelitian ini akan sangat berguna tidak hanya bagi peneliti, tetapi juga bagi pengambil kebijakan strategis di pemerintahan.

Masyarakat Kota Batam adalah masyarakat yang heterogen, masyarakat industry yang terdiri dari  6 (enam) agama. Dan Prov. Kepulauan Riau mendapat urutan no 2 untuk tingkat nasional dalam hal kerukunan umat beragama.

Apa Motivasi Pak Wayan Mengambil Program Study S-3?
Jawaban:
Di manapun kita hidup, bekerja dan mengabdi kepada bangsa akan selalu ada fenomena, paradigma yang baru bahwa kita berhadapan dengan orang dan masyarakat
Saya mengambil program S3 jurusan ilmu Manajemen konsentrasi manajemen SDM. Walau kita memimpin perusahaan, tetapi yang kita hadapi adalah manusia. Lalu bagaimana pendekatan kita terhadap manusia yang lain? Kita harus mampu mengelola dan menggunakan aset human capital, human social, Inilah sebuah proses upgrade diri. Minimal kita bisa menjadi contoh figure bagi keluarga. Saya berharap anak - anak saya bisa terinspirasi minimal sama atau bisa lebih.

Yang ketiga adalah kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain. Setelah menyandang Doktor minimal adalah perubahan laku behavior, bagaimana memimpin umat, memimpin masyarakat. Kita tidak harus menjadi pemimpin formal. Kita setiap hari berjumpa dengan orang lain. Minimal kita menggunakan fungsi manajamen untuk pendekatan persuasif kepada orang lain

Mengapa Pak Wayan tertarik meneliti dengan judul “Pengaruh Budaya keluarga, Pengelolaan Konflik, Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama terhadap Stabilitas kehidupan Masyarkat di Kota Batam?

Jawaban:

Pertama  saya melihat fenomena dan gejolak sosial yang teradi di kota Batam, di mana Batam sebagai daerah industri atau dikenal dengan Batam Industrial Development Authority seharusnya memperhatikan sumber daya manusia yang diharapkan mampu menjaga Batam tetap kondusif dan menjadi pilihan bagi investor asing untuk menanamkan modal di kota Batam. Terkait dengan hal tersebut maka hendaknya kita menjaga stabilitas kehidupan dengan mempertahankan bahwa investor merasa nyaman, aman, tidak terganggu dan  bebas melakukan aktifitas sosial kemasyarakatan. SDM yang baik tentu berasal dari kebiasaan dan budaya dari kehidupan keluarga. Semakin baik budaya di keluarga maka stabilitas di masyarakat akan menjadi meningkat lebih baik dan begitu sebaliknya. Keunikan penelitian saya ini adalah penelitian yang sifatnya preventif yaitu menjaga stabilitas kehidupan masyarakat sebelum terjadi konflik. Adapun kesimpulan dari sebuah penelitian saya bahwa :

1. Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
2. Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
3.    Terdapat pengaruh langsung positif toleransi terhadap stabilitas masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya toleransi masyarakat menyebabkan meningkatnya  stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.

4.  Terdapat pengaruh langsung positif kerukunan antar umat beragama terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya kerukunan umat beragama menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
5. Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

6.  Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

7.   Terdapat pengaruh langsung positif  toleransi terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya toleransi menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

8.    Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap toleransi, yang berarti bahwa meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya toleransi masyarakat di Kota Batam.

9.  Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap toleransi, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya toleransi masyarakat di Kota Batam.

Berbeda dengan penelitian yang terdahulu, seperti peristiwa di Situbondo, bahwa penelitiannya pasca konflik. Begitu juga di Ambon, dan Poso. Preventif jauh lebih baik dari pada korektif yaitu menangani setelah konflik itu terjadi.

Selasa, 10 Oktober 2017

Umat Hindu Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan Melaksanakan upacara Pujawali Pura Girinatha Puncak Sari

Tanjung Pinang-Pada hari Kamis, 5 Oktober 2017, bertempat di Pura Girinatha Puncak Sari, Kabupaten Bintan, umat Hindu kepulauan Riau melaksanakan Upacara Keagamaan yaitu Pujawali yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat. Pujawali adalah sebuah peringatan berdirinya sebuah pura sebagai rumah ibadah agama Hindu. Hadir pada kesempatan itu Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Penyuluh Agama Hindu kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kep. Riau, ketua WHDI Kota Batam dan Kab. Bintan, Ketua Parisada Kota Tanjung Pinang dan Kab. Bintan, Ketua Pasraman Brahma Widya Sattwika, Sanggar Kesenian Langlang Bhuana dan Ketua Lembaga Agama/keagamaan baik tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten.

Acara ini bertujuan untuk memohon kesucian dan anugerah dari Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Acara dimulai dengan mecaru dilanjutkan dengan purwa daksina, mekalyas, gelar sanga dan tarian rejang dewa, kemudian persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pinandita/pemangku.

Pada sambutannya, Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau mengajak umat Hindu yang hadir untuk memohon kesucian dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam upacara ini. Pembimas Hindu juga mengajak umat Hindu di Kepulauan Riau untuk mendoakan saudara – saudara kita yang sedang dilanda musibah di Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali.

Selanjutnya Purwadi, S.Ag, Selaku penyuluh Agama Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau. Berkesemppatan menyampaikan dharma wacana/siraman rohani di hadapan umat Hindu di Kabupaten Tanjung Pinang. Pada awalnya Purwadi menjelaskan awal mula terjadinya pujawali, mengapa harus melaksanakan pujawali atau piodalan dan juga Filosophy agama Hindu. Piodalan berasal dari kata Wedhal keluar atau lahir. Umat Hindu identik dengan dengan acara, upakara atau ritual. Mengapa umat hindu di Kabupaten Bintan harus melaksanakan piodalan? Mengapa ini terjadi?

Piodalan Mengulang sejarah proses sebelum adanya pura dan juga sesudah pura itu ada. Pujawali atau piodalan sebagai Wujud terima kasih kepada leluhur, penggagas dan pendahulu oleh generasi penerusnya. Wujud terim kasih itu berupa pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya pembumian ajaran Weda.

Mengapa piodalan Pura Girinatha Puncak Sari jatuh dan ditetapkan pada rahine tertentu yaitu setiap Purnama sasih Kapat? Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah Untuk mempermudah mengingat, penanda awal berdirinya pura. Dan malam ini bertepatan dengan bulan purnama yang special dan langka di mana sinar bulan tampak lebih besar. Ini harus kta syukuri bersama. Pujawali juga sebagai wujud syukur kepada leluhur kita Hindu. Umat Hindu di Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan sudah ngayah dari awal hingga hari ini dengan penuh keikhlasan dan itulah yajna. Pujawali bukan hanya kewajiban pemangku, panitia atau umat Hindu di kota Tanjung Pinang dan Juga Kab. Bintabn saja tetapi sebagai tanggung jawab kita bersama umat Hindu di Kepulauan Riau. Ini akan membentuk persaudaraan dan persatuan.

Secara geografis Pura Giri Natha terletak di Kabupaten Bintan, tetapi karena umat yang terdekat dari wilayah pura adalah umat Hindu dari Kota Tanjung pinang maka pura ini sebagian besar disungsung oleh Umat Hindu dari Kota Tanjung Pinang.

Agama Hindu tidak bisa lepas dari budaya, budaya tidak bisa lepas dari agama. Sebagai contoh adalah budaya atau tradisi dalam yajna upakara, dan penggunaan banten. Serati banten, panitia jero mangku dan umat mempersiapkan semuanya. Dibentuk sedemikian rupa sedemikian indahnya dengn hati tulus. Suatu bentuk seni budaya dalam bentuk bebantenan sesuai dengan karakter masing – masing di setiap pelinggih yang berbeda-beda.

Sekali lagi Purwadi menyatakan bahwa Piodalan sebagai puncak sejarah dan wujud terima kasih kepada pendahulu. Sebagai pendahulu maka berkewajiban mengajarkan kepada penerusnya tentang sejarah pura Giri Natha Puncak Sari dan juga memperkenalkan diri kepada generasi berikutnya. Sehingga tidak lupa melaksanakan pujawali. Maka kita tidak akan lupa akan sejarah dan melenceng dari ajaran gama Hindu. Apapun yang terjadi awalnya dari sejarah. (eko2017)