Selasa, 04 Juli 2017

Malam Perpisahan dengan Drs. H. Zulkifli Aka

Bertempat di Saung Sunda Sawargi, Batam Center, Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam dan lembaga kegamaan Hindu Lainnya menggelar acara Lepas sambut Kepala Kantor yang lama, Drs. H. Zulkifli Aka, M.Si dengan umat Hindu Kota Batam. Acara juga dihadiri oleh Sesepuh umat, ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kepulauan Riau, I Wayan Catra Yasa dan Pengurus Parisada Prov. Kepulauan Riau, I Ketut Artha, Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu, WHDI Prov. Kepri, WHDI Kota Batam, BOP Agung Amertha Bhuna Kota Batam, UKHB pasraman Jnana Sila Bhakti, DPP Peradah Kepri, dan sesepuh/tokoh umat.

Pada kesempatan itu umat Hindu Kota Batam yang diwakili oleh Ir I Dewa Made Yudha Dewa selaku ketua Panitia yang juga Ketua Parisada Kota Batam menyampaikan ucapan terima kasih atas pembinaan dan perhatian yang diberikan oleh Pak H. Zulkifli kepada umat Hindu di Kota Batam. I Dewa Yudha Dewa juga mengatakan bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Pensiun bukan berarti hubungan kepala kantor berakhir dengan umat Hindu. Kita bisa tetap menjalin hubungan yang harmonis dengan Pak H. Zulkifli.

Sebelas dua belas dengan Ketua Parisada Kota Batam, I Wayan Catra Yasa juga mengucapkan terima kasih kepada Zilkifli Aka atas hubungan baik yang terjalin selama ini dengan umat Hindu. Pak Zilkifli merupakan tokoh bhinneka tunggal ika yang pluralism tidak membeda-bedakan agama, suku, ras dan golongan di Kota Batam. Beliau mengayomi semua masyarakat umat beragama di Kota Batam salah satunya agama Hindu. Di Masa depan Wayan Catra mengajak Umat Hindu untuk menjalin hubungan yang harmonis antara umat beragama dengan pemerintah khususnya Kementerian Agama sebagai bentuk penerapan Tri Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam.

Selanjutnya Zulkifli Aka juga menyampaikan kata sambutan. Beliau mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja sama umat Hindu Batam dalam membangun kota Batam di bidang agama. Batam adalah Bandar dunia yang madani, maka sudah saatnya kita menjadikan kerukunan sebagai modal berharga di kota Batam. Jika ingin Batam maju maka jagalah kerukunannya. Selanjutnya Ibu Zulkifli Aka selaku Ketua Dharma Wanita Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang lama menyerahkan Jabatan Ketua Dharma Wanita kepada Ibu Sarbaini.

Kesempatan terakhir adalah sambutan Drs. H. Sarbaini, S.Ag selaku Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam. Dalam sambutannya Haji Sarbaini mengajak umat Hindu Kota Batam untuk meneladani kinerja Pak Zulkifli Aka yang tidak kenal lelah memberikan pembinaan. Beliau juga meminta dukungan kepada umat Hindu dan tokoh rohaniawan di Kota Batam dalam memebangun Batam di bidang agama. Lembaga agama adalah stake holder Kementerian Agama.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan piagam penghargaan secara massal oleh semua umat Hindu Kota Batam yang hadir pada kesempatan itu sebagai penghargaan atas jasa – jasa beliau dalam membina umat Hindu di Kota Batam. Dilanjutkan dengan pemberian kenang – kenangan, foto bersama, makan malam bersama dan penutupan. (ep2017)


Pembimas Hindu Gelar Kegiatan Dharma Camp Guru Pasraman Agama Hindu Tahun 2017

Setelah sukses menggelar Kegiatan TOT Guru Pasraman Agama Hindu, kini Pembimas Hindu kembali menggelar kegiatan serupa tetapi dengan tema yang berbeda yaitu Dharma Camp Guru Pasraman Agama Hindu yang bertempat di Hotel Hermes Agro, Kabupaten Bintan, tanggal 23 s/d 25 Juni 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari 30 peserta dari Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam dan 10 dari Pasraman Brahma Widya Satwika, Kabupaten Bintan. Hadir Penyelenggara Hindu dan Penyelenggara Buddha pada Kantor kementerian Agama Kota Batam sebagai moderator pada kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya ketut Suardita di Pura Girinatha Puncaksari Bintan menegaskan bahwa Guru Pasraman Agama Hindu harus memilikki semangat dan pengabdian yang tinggi di pasraman. Kita harus bisa menjadi contoh yang baik. Ketut mengharapkan agar peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik serta menerapkannya dalam suasana pembelajaran di pasraman. Adapun tema kegiatan ini adalah Melalui Kegiatan Dharma camp 2017 Guru Pasraman Agama Hindu Prov. Kepulauan Riau Kita Tingkatkan Rasa Persaudaraan, dan Berdedikasi dalam Bingkai NKRI, tegas Ketut mengakhiri sambutannya. Pada hari Sabtu, 24 Juni 2017 pagi hari, peserta Dharma Camp mengikuti kegiatan Yoga Asanas yang dipandu oleh Made Karmawan, Guru Agama Hindu Kota Batam. Kegiatan Yoga selain menyehatkan badan juga sangat baik untuk kesehatan mental kita tegas Made Karmawan mengakhiri pembicaraannya.

Adapun narasumber pada kegaiatan ini berasal dari Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau sebanyak 1 orang. Dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat sebanyak 1 orang, dari Parisada Prov. Kepulauan Riau sebanyak 1 orang, dan dari Polres Kabupaten Bintan sebanyak 1 orang. Pembimas Hindu menyampaikan Pola Pembinaan Siswa Pasraman, kemudian dari Polres Bintan menyampaikan Bhinneka Tunggak Ika. Berbeda dengan narasumber sebelumnya. Kali ini KS Arsana yang merupakan narasumber dari Jakarta menyampaikan Pola Pembinaan Siswa Pasraman dengan motode Quantum Learning atau metdoe praktik langsung. Terakhir I Wayan Catra Yasa menyampaikan materi dengan topik Pola Manajemen Pendidikan di Pasraman.

Pada hari Minggu, 25 Juni 2017, peserta mengikuti kegiatan Outbond di Gunung Bintan yang memilikki ketinggian 200m di atas permukaan air laut. Kegiatan ini selain untuk menyehatkan badan juga untuk melatih peserta menghadapi tantangan dan meningkatkan wawasan lingkungan, kecintaan terhadap flora dan fauna. Setelah berhasil mendaki gunung Bintan, peserta mengikuti persembahyangan bersama di Puncak Gunung Bintan.


Menurut Eko selaku Penyelenggara Hindu, kegiatan ini sangat positif sekali untuk mengurangi kejenuhan guru saat mengajar di pasraman. Perlu penyegaran pikiran kepada guru yang mengajar di pasraman. Setelah kegiatan Dharma Camp Guru Pasraman maka akan disusul kegiatan Dharma Camp Siswa Pasraman yang akan dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2017, tegas Eko di akhir-akhir pembicaraannya. (ep2017)

Rabu, 07 Juni 2017

Pasraman Kilat Siswa – Siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam

Bertempat di Pura Agung Amertha Bhuana, pada tanggal 6 sampai dengan 8 Juni 2017, Pasraman Jnana Sila Bahkti mengadakan Kegiatan Pasraman Kilat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengisi liburan siswa – siswi yang beragama Hindu di Kota Batam dan untuk menguatkan sradha siswa – siswi yang beragama Hindu. Kegiatan ini diikuti oleh semua siswa dari tingkat PAUD sampai dengan SMA/SMK.

Kegiatan diisi dengan Persembahyangan bersama dilanjutkan doa bersama sebagai upaya pengenalan mantra Weda dan pembumian ajaran Weda oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Setelah itu siswa di arahkan sesuai dengan tingkatanya. Untuk tingkat SMP dan SMA di utama mandala. Tingkat SD dipusatkan di aula, sedangkan siswa PAUD dipusatkan di ruang belajar PAUD. Tetapi di hari kedua dan ketiga akan ditukar tempatnya agar inovatif dan siswa tidak jenuh.

Untuk siswa PAUD mereka dipandu oleh Siswanti dan Rinawati. Mereka diajak untuk mewarnai gambar Dewa Ganesha sebagai upaya mengenalkan Dewa Ganesha pada siswa PAUD. Ganesha adalah dewa kecerdasan dan penghalau segala rintangan. Untuk tingkat SD kelas 1 sampai dengan kelas 3 dipandu oleh Resi Deepsiani, Putu Desy, Komang Wartina, Katmiartik dan lainnya.  Mereka diberi tugas dikusi. Untuk tingkat SD kelas 4 sampai dengan 6 dipandu oleh Putu Suardika dan timnya. Mereka diberi tugas mewarnai gambar dewa beserta  tugas dan fungsinya. Untuk tingkat SMP dan SMA dipandu oleh Eko Prasetyo,  Made Karmawan, I Gusti Ayu Laksmi dan Endang Daryanti. Di hari pertama, siswa SMP dan SMA diajak untuk menguasi jiwa kepemimpinan melalui dinamika kelompok, problem solving, menggambar simbol pada bendera lalu menjelaskan maknanya dan membuat yel – yel. Terkahir mereka presentasi hasil diskusi kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk jiwa kepemimpinan, peningkatan soft skill dan kerjasama tim. Ilmu ini akan bermanfaat kelak setelah mereka dewasa nanti.

Di hari kedua hampir sama dengan hari pertama. Hanya saja khusus SMP dan SMA di hari kedua mereka lebih banyak diskusi di ruang kelas dan mengambil nilai – nilai dharma dalam video film dasa Awatara Wishnu ke dunia. Untuk siswa  PAUD dengan materi game yang mengasah otak,  sedangkan siswa SD diisi dengan materi game dan kerjasama tim. Di hari ketiga, Kamis, 8 Juni 2017 materi akan diisi dengan Yoga asanas yang dipandu oleh Made Karmawan.

Ditemui secara terpisah, I Made Kasa Astawa selaku Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti menyatakan bahwa kegiatan ini bersifat wajib dari siswa PAUD sampai dengan siswa kelas XI. Tujuan kegiatan ini di samping untuk mengisi liburan juga untuk membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan peserta. Made mengatakan bahwa kegiatan ini mengacu pada Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang meliputi tattwa, etika dan upakara.  Jadi siswa pasraman nanti akan belajar Etika, Ritual dan upakara. Di segi etika maka siswa akan dibentuk jiwa leadership, kerja sama tim dan problem solving. Dari segi ritual maka siswa akan belajar membuat banten yang paling sederhana seperti canang sari. Di segi tattwa maka guru pembimbing akan menyelipkan makna filosopis dari apa yang siswa lakukan. ”Pokoknya siswa akan senang dan rugi kalau tidak datang, intinya kegiatan ini adalah fun in dharma, tegas Made mangakhiri pembicaraannya.


Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali terutama bagi siwa, dan juga bagi guru, orang tua. Kegiatan ini bertujuan untuk pembentukan karakter, meningkatkan sradha dan bhakti siswa, meningkatkan cinta kepada Hindu dan cinta kepada NKRI, menumbuhkan kebersamaan dan jiwa kepemimpinan. Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.  Kegiatan ini harus berkesinambungan setiap tahunnya dengan nuansa yang lebih inovatif agar siswa tidak jenuh. (ekoprasetyo2017)

Minggu, 04 Juni 2017

TOT Guru Pasraman Agama Hindu 2017 Kanwil kemenag Kep. Riau


Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau menggelar kegiatan Training of Trainer (TOT) Guru Pasraman Agama Hindu Tahun 2017 dari tanggal 2 Juni sampai dengan 4 Juni 2017 di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam. Kegiatan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri 35 orang dari Pasraman Jnana Sila Bhakti dan 5 orang dari Pasraman Brahma Widya Sattwika, Bintan. Peserta kegiatan ini beragam latar belakang mulai dari guru Pasraman, guru ekstrakurikuler pasraman, Guru PAUD dan Pembina Pasraman.

Acara ini diawali dengan Upacar Pembukaan. Purwadi menyampaikan sambutan selaku Ketua Panitia. Purwadi menyampaikan beberapa hal pokok. Menurut Purwadi, dasar dari kegiatan ini adalah keputusan Ka-Kanwil Kemenag Kepri Nomor 333 Tanggal 23 Mei 2017 tentang Pembentukan Panitia, Pesertra, moderator, dan narasumber kegiatan TOT Guru Pasraman Agama Hindu. Tujuan dari Kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas Guru Pasraman Agama Hindu dan berdedikasi tinggi terhadap tugas dan jabatannya, menambah wawasan dan Ilmu Pengetahuan dalam proses belajar dan mengajar, dan meningkatkan edukasi guru dalam penerapan kurikulum tahun 2013. Purwadi juga menerangkan tema dari kegiatan ini yaitu Melalui Kegiatan TOT Guru Pasraman Agama Hindu Prov. Kepulauan Riau Kita tingkatkan kualitas SDM Guru Agama Hindu yang handal, berkualitas Melalui Empat Pilar Kebangsaan.

Pada kesempatan pertama adalah Kepala Kantor Wilayah kemenag Kepri dengan materi Peningkatan Kualitas Guru Agama Hindu Melalui Empat Pilar Kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinekka Tunggal Ika dan NKRI. Narasumber yang kedua adalah kepala Dinas Pendidikan Prov. Kep. Riau dengan materi Peranan Dinas Pendidikan Dalam Peningkatan Kualitas SDM Guru Agama Hindu. Narasumber yang ketiga adalah Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kepri dengan materi Swadharma Guru Agama Hindu dalam mewujudkan Pendidikan Karakter. Yang terakhir adalah Praktisi Pendidikan Agama Hindu dengan materi Implementasi Model – Model Pembelajaran Kurikulum 2013.  Segala biaya penyelenggaraan Kegiatan ini dibebankan kepada DIPA Bimas Hindu Kanwil Kemenag Kepri, papar Purwadi mengakhiri sambutannya.

Selanjutnya Ketut Suardita dalam Sambutan pada acara pembukaan TOT menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua Guru Pasraman yang telah tulus ikhlas mengabdikan diri di pasraman. Ketut juga menyampaikan bahwa di Prov. Kepulauan Riau hanya memilikki 1 orang Guru PNS saja. Jumlah ini sangat kurang dibandingkan jumlah siswa beragama Hindu. Untuk itu mereka akan belajar di Pasraman, maka dari itu semua guru harus membantu mendidikan siswa kita. Ketut berpesan agar semua peserta mengikuti seluruh rangkaian kegaiatan dari awal sampai selesai, tegas Ketut mengakhiri samburannya sekaligus membuka acara ini secara resmi.


Kegiatan ini sangat bermanfaat terutama bagi guru Pasraman Agama Hindu karena dapat meningkatkan ilmu dan keterampilan Guru dalam Proses Belajar Mengajar di Pasraman. Setelah kegiatan ini diharapkan Guru Pasraman Agama Hindu dapat menerapkannya di pasraman, tegas Ketut Suardita mengakhiri sambutannya pada acara penutupan kegiatan TOT Guru Pasraman Agama Hindu Tahun 2017. (ekoprasetyo2017).

Jumat, 02 Juni 2017

Penyelenggara Hindu Kemenag Kota Batam Hadiri Seminar Nasional Pariwisata dan Kemaritiman di gedung Bank Indonesia Kepualuan Riau


Pada hari Sabtu, 23 April 2017 Bertempat di Aula BI Kepri di Batam, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Ikatan Alumni (IKA) Universitas Andalas (UNAND) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bekerjasama dengan Bank Indonesia Kepri mengadakan Seminar Nasional Industri Pariwisata dan Maritim Indonesia dengan tema Industri Pariwisata dan Maritim sebagai Sumber Ekonomi Baru yang Berkelanjutan dan Inklusif. Seminar ini dilaksanakan bersampena dengan Musyawarah Daerah III IKA UNAND Prov. Kepuluan Riau. Acara diikuti oleh lebih dari 300 peserta yang beragam latar belakang mulai dari ASN, para praktisi bidang perbankan, kepariwisataan, mahasiswa, awak media dan juga masyarakat umum. Hadir pada kesempatan itu menpan RB RI Dr. Asman Abnur, SE, M.Si,  Gubernur Prov. Kepulauan Riau, gubernur Kepri, Pejabat Bank Indonesia Kepulauan Riau, Perwakilan Universitas Andalash, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, mahasiswa dan umum.

Ahmad Mipon selaku Ketua IKA UNAND Kepri, dalam sambutannya menyampaikan beberapa hal penting salah satunya bahwa pelaksanaan seminar nasional ini sebagai wujud kepedulian terhadap pembangunan di sektor pariwisata dan maritim terutama di wilayah Kota Batam, dan Kepulauan Riau pada umumnya.
Kemudian Nurdin Basirun selaku Gubernur Kepri dalam sambutannya menegaskan bahwa sector Industri pariwisata dan maritim bukanlah industri yang baru kita kenal. Apalagi dI Kepulauan Riau kita mempunyai potensi yang besar, karena Kepulauan Riau adalah wilayah Kepualauan yang terbesar di Indonesia jika dibandingkan provinsi lainnya, tegas Nurdin di tengah – tengah sambutannya. Kepulauan Riau memiliki potensi besar dalam meningkatkan ekonomi Kepri dan Indonesia. Maka dari itu, keduanya harus digarap dengan optimal.

Tampil sebagai Keynote speaker pada acara seminar itu adalah Asman Abnur selaku MenPAN-RB yang merupakan salah satu alumni Universitas Andalash dan juga Ketua Umum IKA UNAND. Asman Abnur manyatakan bahwa Pembangunan di bidang Pariwisata dan maritim harus didukung kinerja aparatur sipil Negara (ASN) yang baik. Ke depan semua ASN harus memilikki inovasi kinerja yang baik. Yang tidak berintegritas dan berinovasi akan tertinggal dengan sendirinya dalam persaingan di era modern. Di masa depan penerimaan ASN akan dilakukan secara ketat guna mencari hasil yang terbaik. ASN harus memilikki kompetensi dibidanngnya. Sebagai contoh kepala Dinas Perhubungan Darat yan harus dari lulusan STTD bukan dari lulusan Pendidikan Agama. Negara akan memikirkan kesejahteraan ASN jika mereka berkinerja dengan baik untuk memajukan bangsa dan Negara ini. Jika ASN maju maka niscaya pembangunan akan berjalan dengan lancar.

Pembicara pada acara seminar itu adalah Deputi Kementerian Pariwisata RI, Deputi Kementerian Koordinator Kemaritiman RI dan Ketua Umum DPP ASITA Asnawi Bahar. Narasumber dari Kementerian Pariwisata RI menyampaikan materi Transformasi Ekonomi Indonesia Melalui Sharing Economy Maritim, Sedangkan dari Kementerian Koordinator Kemaritiman RI menyampaikan materi dengan topik Peran Pariwisata Perekonomian Global. Terakhir adalah dari Ketua Umum DPP ASITA menyampaikan Sebuah topik yaitu Perkembangan dan daya Saing Pariwisata Indonesia. Peserta begitu antusias terutama dari kalangan akademisi.
Setelah Seminar selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan Musyawarah Daerah (Musda) IKA UNAND III untuk memilih ketua dan pengurus IKA UNAND yang baru.

Acara ini sangat positif dan bermanfaat untuk menggali potensi lebih dalam kemaritiman dan pariwisata di Kota Batam dan Provinsi Kepulauan Riau. (ep2017)





Kamis, 01 Juni 2017

Sosialisasi PBM Nomor 9 dan nomor 8 tahun 2006 dan Pengukuhan Dewan Pendidikan serta Forum Pembauran Kebansaan Kota Batam

Bertempat di Hotel crown Vista Kesbangpol kota Batam, pada tanggal 23 Mei 2017 Pemkot Batam menyeklenggarakan kegiatan Sosialisai Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan nomor 8 Tahun 2006 perihal Pedoman pelaksanaan tugas Kepala daerah dalam memeliharan kerukunan umat beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. Hadir pada kesempatan itu Kepala Kesbangpol Kota Batam, Kasi Pendidikan Keagamaan Islam kantor Kementerian Agama Kota Batam, Penyelengagra Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam, Pejabat di Lingkungan Pemkot Batam, Para Camat, dan lurah se- Kota Batam. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala kesbangpol dan dilanjutkan pada acara inti yaitu sosialisasi PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006.

Tampil sebagai pembicara pada kesempatan itu yaitu H. Zulkarnain Umar selaku Kepala Seksi Pendidikan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama Kota Batam. Dalam penyampaiannya Zulkarnain Umar mengajaka masyarakat kota Batam untuk memelihara kerukunan dan mengedepankan musyawarah mufakat jika timbul masalah di akar rumput. Hal serupa juga disampaikan oleh narasumber kedua dari Kesbangpol yang menegaskan bahwa Masyarakat Kota Batam harus hidup rukun, karena jika Batam damai maka pembangunan di Kota Batam akan berjalan lancar. Investasi ke kota Batam akan semakin besar.

Pada malam harinya Walikota Batam melantik Pengurus FKUB Kota Batam dan Forum Pembauran Kebangsaan periode 2017 – 2022. Dari Agama Hindu diwakili oleh Drs. I wayan Catra Yasa, MM. Dalam sambutannya Rudi selaku Walikota Batam menegaskan bahwa FKUB Kota Batam mempunyai tugas yang sangat berat karena harus menjadi contoh dan pelopor kerukunan di Kota Batam. Kerukunan adalag asset yang sangat berharga dan mahal, karena jika Btaam aman dan rukun maka investasi akan meningkat di Batam. Rudi juga berpesan kepada pengurus Forum Pembauran Kebansgaan agar mengakomodir semua suku yang ada di kota Batam, ciptakan suasana damai bagi semua suku yang ada di kota Batam, jika ada masalah maka FPK bertugas sebagai mediatornya. Walikota Batam juga melantik Dewan Pendidikan Kota Batam periode 2016 – 2021. Tugas berat Dewan Pendidikan Kota Batam sudah di depan mata yaitu menyelesaikan permasalahan penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2017 – 2018 di Kota Batam. (ep2017).


Bimas Hindu menyambut kunjungan Bupati Jembrana, Bali

Bertempat di Pura Agung Amertha Bhuana, pada hari Jumat, 26 Mei 2017 Bupati Kabupaten jembrana, I Putu Artha, SE, MM dan Wakil Bupati Kab. Jembrana, I Made Kembang Hartawan, SE, MM beserta jajarannya, 5 orang Camat di Wilayah Kab. Jembrana, Kabag Inspektorat, Kabag Humas, 10 orang lurah, dan 41 Kepala Desa (Perbekel) serta Ibu – Ibu yang tergabung dalam WHDI Kab. Jembrana melakukan kunjungan sekaligus memberikan pembinaan kepada umat Hindu di Kota Batam. Hadir dan turut menyambut rombongan pada kesempatan itu yaitu Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, I Wayan jasmin selaku Ketua Parisada Prov. Kep. Riau, Ketua BOP Agung Amertha Bhuana, I Dewa made Yudha Dewa selaku Ketua Parisada Kota Batam, Ketua WHDI Kota Batam dan Prov. Kep. Riau dan ketua Lembaga Agama  kegamaan Hindu se- Kepri.

Pada kesempatan pertama Penyelenggara Hindu memberikan sambutan dan ucapan selamat datang kepada rombongan. Dilanjutkan dengan selayang pandang Pura Agung Amertha Bhuana yang disampaikan oleh Ir. Wayan jasmin selaku Ketua parisada Kep. Riau perihal sejarah Pura Agung Amertha Bhuana dan Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam.

Pada Kesempatan berikutnya adalah sambutan Bupati Kab. jembrana yaitu I Putu Artha, SE, MM . Dalam sambutannya Bupati Jembrana mengajak umat Hindu di luar Bali untuk tetap menjaga dan mengdalikan perilaku, perkataan di tanah perantauan. Bupati juga menghimbau agar umat mampu menahan diri untuk tidak terpancing terhadap isu – isu SARA yang marak belakangan ini. “Kita yang minoritas harus menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan umat Bergama baik intern maupun ekstern”, tegas Bupati mengakhiri sambutannya.


Acara diakhiri dengan penyerahan dana punia dari rombongan Umat Hindu Kabupaten jembrana yang dserahkan langsung oleh Bupati Jembrana kepada I Gusti Ngurah Brunayasa selaku Ketua Badan Otorita Pura Agung Amertha Bhuana (BOP) Kota Batam. Dari BOP juga menyerahkan souvenir kepada rombongan yang diterima langsung oleh Bupati Kab. Jembrana. (ep2017)

Pembinaan Siswa Pasraman Tahun 2017 di Kota Batam

Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Batam pada hari Kamis, 25 sampai dengan Jumat, 26 Mei 2017, Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam menyelenggarakan kegiatan Pembinaan SIswa Pasraman. Acara diikuti oleh 21 peserta yang terdiri dari Siswa tingkat SMP dan SMA yang beragama Hindu se- Kota Batam. Peserta yang terpilih ini adalah juga sebagai siswa Pasraman Jnana Sila Bhakti yang merupakan sekolah minggu Hindu non Formal di Kota Batam. Peserta ini juga akan maju mewakili Prov. Kepulauan Riau untuk maju di festival Seni Baca Kitab Suci Weda yaitu Utsawa Dharma Gita tingkat Nasional ke-13 di Kota Palembang pada builan Juli nanti.

Adapaun tema kegiatan ini adalah “Melalui Kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman 2017 di Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Batam Kita Tingkatkan Kompetensi Diri menghadapi era MEA”. Dari Tema ini jelas bahwa siswa pasraman sebagai generasi muda dituntut untuk meningkatkan kualitas diri menghadapi era MEA. Siswa juga dituntut untuk menguasai IPTEK, meningkatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memilikki ketrampilan, keahlian, kompetensi dan juga soft skill.

Acara diawali dengan sambutan ketua panitia yang disampaikan oleh Magdalena Silfia. Magdalena mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk mewujudkan visi dan misi Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang berusaha mewujudkan umat Hindu yang cerdas, taat beragama, sejahtera, berakhlak mulia menuju Batam Bandar sebagai Bandar dunia yang madani berlandaskan gotong royong. Kegiatan ini juga untuk membentuk karakter siswa dan memberi pembekalan menghadapi tantangan kehidupan sehari-haru dan tantangan jangka panjang yaitu era Masayarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pada sesi paparan materi, Haji Zulkifli selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam berpesan agar siswa Hindu haru menguasai IPTEK dan juga belajar ilmu agama sebagai penyeimbang. Ilmu pengetahuan tanpa agama akan membawa kehancuran bagi pemiliknya. Sudah banyak contoh penyalahgunaan kemajuan IPTEK yang berakhir dengan bencana jika ilmu tidak didasari dengan agama yang benar. Dan saat ini penting bagi siswa pasraman adalah mengahayati dan mengamalkan nilai – nilai Pancasila.

Haji Sarbaini selaku Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama juga berpesan kepada siswa pasrmaan agar mampu bersaing di dunia nyata. Genarasi muda jangan mudah tergoda narkoba, pergaulan bebas, game dan lain sebagainya. Cara mudah menghancurkan suatu bangsa adalah menghancurkan generasi mudanya melalui budaya pergaulan bebas, narkoba, game dan lain sebagainya. Dan itu sedang dilakukan oleh asing kepada negara kita. Maka siswa pasraman harus mengisi kegiatan sehari – hari dengan aktivitas yang positif di samping juga peningkatan kualitas diri.

I Wayan Catra Yasa selaku Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kepulauan Riau juga berharap agar siswa pasraman mampu melakukan upgrade Diri. Siswa Pasraman harus tahan banting di samping juga mempunyai budi pakerti yang luhur.

Ketut Suratha Arsana selaku narasumber dari Jakarta yang juga merupakan pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat menyempaikan materi dengan metode yang berbeda. KS Arsana mengajak peserta untuk bermain game atau dinamika kelompok. Dari permainan ini peserta akan menemukan masalah dan memecahkan masalah, Tujuannya sederhana, bahwa generasi muda tidak boleh lari dari masalah, tetapi justru bagaimana kita menemukan masalahnya.

Pada keesokan harinya tepatnya pada hari Jumat 26 Mei 2017 Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu Kemenag Kota Batam juga memberikan pembekalan kepada semua peserta dengan menggunakan metode praktik, pemberdayaan otak kanan dan otak kiri dan metode analisis SWOT untuk menghadapi era MEA. Eko mengajak semua siswa agar menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dengan cara belajar sambil bermain musik, melukis, agar siswa tidak merasa bosan. Kita semua tahu bahwa otak kiri mewakili logika, angka dan matematika dan otak kanan mewakili keindahan, seni dan mimpi. Jadi kita harus seimbang dalam menjalankan hidup ini.

Dilanjutkan dengan paparan materi dari Made Karmawan selaku Guru Agama Hindu yang menerangkan Materi Dinamika kelompok dan Problem Solving. Metodenya hampir sama dengan narasumber sebelumnnya, hanya saja Made Karmawan menggunakan media yang berbeda. Made mengajak siswa untuk mengamati pembuatan canang sari dan mengalisa manfaat dan fungsinya dalam pemujaan kepada Tuhan.

Terakhir Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepuluan Riau menyampaikan paparan materi terkait penguatan Sradha dan Bhakti siswa pasraman. Seorang siswa harus memilikki keimanan yang kuat kepada Tuhan dan Agama Hindu di era modern seperti ini. Demikian penjelasan Ketut Suardita mengakhiri materinya sekaligus menutup acara ini secara resmi.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa pasraman karena di samping materi yang berkualitas juga ada pembentukkan karekater di dalamnya. Siswa diajarkan untuk mandiri dan bekerja keras. (ep2017)


Penyelenggara Hindu Mengikuti Bench Marking dan Rapat Pimpinan di Jogjakarta


Pada tanggal 18 s/d 21 Mei 2017, bertempat di Jogjakarta, rombongan Kepala Kantor Kementerian Agama dan para Pejabat serta Kepala madrasah, kepala KUA Kecamatan di lingkungan Kantor kemenetrian Agama Kota Batam melaksanakan Bench marking dan rapat pimpinan di Jogjakarta dengan lokusnya adalah Kanwil Kementerian Agama Prov, DI. Yogyakarta, Kantor Kementerian Agama  Kabupatan Sleman, MAN 2 Jogjakarta, Masjid Jogo Karyan dan diakhiri dengan rapat pimpinan di UIN. Sebagai bahan penelitian kali ini adalah inovasi pelayanan publik di Jogjakarta.

Pada kesempatan pertama tim dari kemenag Kota Batam berkesempatan mengunjungi Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov, DI. Yogyakarta untuk mengetahui lebih dekat kualitas pelayanan publik di Kanwil Kemenag DI. Yogyakarta. Penerapan pelayanan satu atap (One Top Service) menjadi modal utama dalam inovasi pelayanan publik. Kerjasama dengan pihak bank sudah dilakukan untuk pelayanan Haji dan kebutuhan lainnya bagi para pegawai. Pada kesempatan itu Tim juga menyempatkan diri berdialog dengan segenap jajaran Kanwil di mana ada point penting yang diambil dari pertemuan itu yaitu Pelaksanaan pembayaran TPG Guru, Penerapan aplikasi SIMPATIKA, Pemeliharaan Kerukunan Umat beragama, aplikasi SIPKA dan masih banyak lagi. Ke depan kerjasama yang baik bisa dikembangkan antara kedua Satker ini untuk mewujudkan kualitas  pelayanan publik.

Pada kesempatan kedua tim menyempatkan diri berkunjung ke MAN 2 Jogjakarta yang letaknya tidak jauh dari Pusat Kota Jogjakarta. Sekolah ini sudah menerapkan pola madrasah berbasih IT dan berusaha membuat program Kampung IT. Segudang prestasi juga diraih oleh sekolah ini. Kepala madrasah Negeri 2 Jogjakarta menyatakan bahwa prestasi dari anak didiknya tidak lepas dari kerja keras siswa, guru dan seluruh elemen sekolah serta dukungan dari orang tua siswa, komite sekolah dan beberapa Institusi Pemerintah, institusi pendidikan seperti UIN Sunan Kalijaga dan sebagainya. Ini sangat membanggakan kita bersama. Bahwa madrasah lebih baik, lebih baik madrasah. Sekolah madrasah bisa bersaing dengan sekolah umum.

Berikutnya adalah kunjungan ke Masjid Jaga Karyan untuk mengetahui sejauh mana manajemen pengelolaan rumah ibadah/masjid yang modern. Ketua Pengurus Masjid menyatakan bahwa di era modern ini kita harus memperbanyak tindakan nyata, bukan hanya teori apalagi janji. Pengurus harus memberi contoh nyata dalam mengelola masjid maka umat akan meniru dan membantu pengelolaan masjid dari segi pendanaan dan fasilitas penunjang. Tidak heran jika sekarang bangunan masjid ini sudah megah dan banyak umat Islam yang datang.

Yang terakhir adalah kungjungan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman. Kantor Kemenag Kabupaten Sleman juga sudah menerapkan pelayanan satu atap (One Top Service). Pelayanan Haji sudah bekerjasama dengan pihak bank syariah, jadi calon Haji yang mendaftar Haji tidak perlu repot ke bank, karena semua pelayanan sudah ada di Kantor ini. Demikian juga inovasi KUA di wilayah Sleman juga sudah diakui secara nasional terbukti dengan predikat inovasi terbaik KUA nasional pada tahun 2016. Di Kabupaten ini Kepala KUA sudah menerapkan novasi pelayanan berbasis IT dengan menggandeng pihak madrasah dengan tetap memegang nilai – nilai ajaran agama melali metode pencegahan penyakit masyarakat. Ini bisa dipedomani oleh Kepala KUA Kecamatan Se-Kota Batam.

Selanjutnya adalah Rapat Pimpinan yang dilaksanakan di Auditorium UIN dipimpin langsung oleh Kepala kantor Kementerian Agama Kota Batam, H. Zulkifli. Zulkifli mengajak jajarannya untuk mengevaluasi pelayanan publik di masing – masing Satker, membandingkan role model pelayanan publik di  DI Yogyakarta selanjutnya melakukan inovasi pelayanan publik untuk diterapkan di masing – masing Satker.  

Secara terpisah, H. Handarlin Umar selaku Kepala Biro Umum UIN Sunan Kalijaga berpesan bahwa kita haru bekerja professional, berintegritas dan berinovasi. Jabatan hanya sementara dan sebauh amanah, maka jangan pernah kita menyalahgunakan jabatan kita. Teruslah berkarya di Kementerian Agama maka Tuhan akan memberikan petunjuk yang terbaik bagi kita.


Acara ini sangat bermanfaat sekali untuk menumbuhkan budaya melayani dan etos kerja yang tinggi di Kementerian Agama Kota Batam. Semua ASN dituntut untuk melakukan inovasi pelayanan public yang lebih di masa yang akan datang. Semua kekurangan yang kita miliki. (ep2017).

Selasa, 18 April 2017

Perayaan Hari Raya Kuningan di Kota Batam



Pada hari Sabtu, 15 April 2017 umat Hindu kota Batam kembali merayakan hari raya Kuningan sebagai bagian dari rangkaian hari raya Galungan sebelumnya. Persembahyangan dilakukan pada 2 (dua) waktu yang berbeda. Di pagi harinya dilangsungkan di Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batamindo dan pada malam harinya dilaksanakan di Pura Agung Amertha Bhuana, daerah South Link,  Kota Batam. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, pengurus majelis Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Kep. Riau dan kota Batam, Ketua BOP, Ketua UKHB, Ketua Peradah Kepri, pengurus WHDI dan lembaga keagamaan lainnya.

Menurut Putu Suardika selaku Ketua Unit Kerohanian Batamindo (UKHB) ditemui pada hari Sabtu pagi di Pura Satya Dharma, Kawasan Industri Muka Kuning, Batamindo, hal ini terjadi karena masayarakat hindu Kota Batam beragam latar belakang profesinya. Ada yang masuk kerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan.

Pada malam harinya, di Pura Agung Amerta Bhuana, Kawasan South Link, Sei Ledi, I Gusti Ngurah Anom selaku Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Kepulauan Riau berkesempatan memberikan dharma wacana (ceramah keagamaan) perihal Kuningan. I Gusti juga menegaskan bahwa Hari Raya Kuningan jatuh setiap 210 hari sekali atau sekitar 6 bulan tepatnya 10 hari setelah hari raya Galungan. Hari raya Kuningan jatuh setiap hari Sabtu Kliwon wuku Kuningan. Kuningan berasal dari kata “Kawuningan” yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran. Kuningan adalah hari di mana Tuhan dan leluhur menganugerahkan kemakmuran kepada keturunannya. I Guti juga berpesan kepada para siswa pasraman agar selalu berbhakti kepada orang tua, membantu orang tua dan rajin belajar, rajin sembahyang. Karena orang tua adalah perwujudan leluhur di muka bumi ini.

Di akhir wacananya I Gusti menjelaskan bahwa dalam Kuningan menggunakan upakara sesaji yang berisi simbul tamiang dan endongan. Di sinilah terjadi pencurahan kasih sayang leluhur kepada anak cucunya dengan mendatangi kita untuk memberi berkat dan petunjuk bagi kita semua. Maka seyogyanya kita juga harus menghaturkan sesaji tempat leluhur kita berstana. Kuningan juga merupakan perlambang kasih sayang orang tua kepada anaknya yang diwujudkan dengan kompek/endongan, kolem dan Tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Simbol cakra pada banten Kuningan menggambarkan bahwa kita juga harus memutar roda ekonomi kehidupan  Sebuah keluarga harus mampu memberdayakan potensi ekonomi keluarga. (ep2017)




Dharma Santi Nyepi 1939 Saka di Kota Batam

Pada hari Rabu, 5 April 2017, bertempat di Pondok Santai Kak Dadut, Kawasan Sei Ledi, South Link, Kecamatan Sei Beduk Kota Batam, sekitar 600 umat Hindu Kota Batam merayakan Dharma Santi sebagai acara puncak perayaan hari raya Nyepi 1939 Saka. Acara dihadiri oleh Parisada Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kepulauan Riau, Penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam, Ketua lembaga keagamaan Hindu.

Dalam Sambutannya I Wayan Jasmin selaku ketua Parisada Hindu Dharma Prov. Kepulauan Riau mengajak umat Hindu untuk terus aktif dalam kegiatan keagamaan di pura. Wayan juga menyampaikan bahwa konsep dharma santi tahun ini penuh kesederhanaan berbeda dari tahun sebelumnya.

Selanjutnya I Wayan Catra Yasa selaku ketua Paruman Walaka Parisadas Prov. Kepulauan Riau menyampaikan pesan bahwa umat Hindu harus mampu mengendalikan diri dan memerangi musuh dalam diri kita yang dinamakan Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia) yaitu kemarahan, kesombongan, kemalasan keserakahan, iri, dan kebingungan.

Wayan juga menjelaskan Sad Dharma dalam agama Hindu yang artinya enam metode pembinaan umat Hindu yaitu darmathula atau diskusi tanya jawab, dharmawacana atau ceramah keagamaan, dharmagita atau seni baca dan menyanyikan kitab suci Weda, dharma- yatra artinya berkunjung ke tempat suci, dharmasadhana melakukan latihan disiplin rohani seperti meditasi, puasa dan sebagainya, dan dharmasanti yang berarti berkumpul bersama membicarakan dan mendengarkan ajaran kebenaran.


Putu Suardika selaku Ketua Panitia pelaksana memberi apresiasi kepada umat Hindu dan panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya. Dharma santi ini adalah dari kita, untuk kita dan oleh kita. (ep2017)

Hari Raya Galungan di Kota Batam

Bertempat di Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batamindo, pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, 5 April 2017, umat Hindu Kota Batam mengadakan persembahyangan bersama memuja kebesaran Tuhan di hari raya Galungan. Hari raya ini jatuh setiap 6 (enam) bulan sekali, tepatnya 210 hari. Tujuan dari peringatan hari raya ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma.

Menurut penyelenggara Hindu Galungan hari di mana umat Hindu merayakan kemenangan dhamra (kebenaran) melawan adharma (ketidak benaran). Penyelenggara Hindu mengajak Umat Hindu di Kota Batam untuk senantiasa membentengi diri dengan dharma dalam setiap gerak pikiran, perkataan dan perbuatan untuk mewujudkan loka samgraha (tempat yang damai). Kemenangan di sini bukan kemenangan dalam artian fisik dan menggunakan senjata, tetapi sejauh mana kita mengalahkan musuh dalam diri kita yang dalam agama Hindu di sebut Sad Ripu (enam musuh) yaitu: kama (nafsu yang berlebihan), loba (serakah), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (iri hati). Keenam musuh ini akan menghambat kemajuan spiritual kita dan pada akhirnya berpengaruh kepada kepribadian kita dan kita tidak bisa diterima dalam pergaulan di masyarakat. Untuk merayakan kemenangan kita dalam mengalahkan enam musuh ini maka Umat Hindu merayakan Hari raya Galungan.

Eko juga menambahkan bahwa dalam kitab Sundarigama disebutkan bahwa umat Hindu wajib merayakan hari raya Galungan setiap 6 (enam) bulan sekali atau tepatnya 210 hari sekali. Galungan hendaknya dirayakan pagi hari atau sebelum jam 12 siang. Tetapi karena banyak umat Hindu di Kota Batam yang bekerja di perusahaan-perusahaan dan instansi lainnya maka pengurus pura menggelar perayaan Galungan pada malam harinya dengan tempat yang berbeda yaitu di Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam. (ep2017)



Tawur Kesanga dan Pawai Ogoh - Ogoh pada Hari Raya Nyepi 1939 Saka di Kota Batam

Pada Hari Senin tanggal 27 Maret 2017 bertempat di Lapangan Parkir Pura Agung Amertha Bhuana, Umat Hindu Kota Batam menyelengarakan persembahyangan bersama dalam rangka upacara Tawur Agung Nyepi 1939 Saka yang dilanjutkan dengan melaksanakan pawai Ogoh-ogoh dengan rute Pura sampai dengan lampu merah Universitas Internasional Batam (UIB). Acara diikuti oleh sedikitnya 600  umat Hindu yang berdomisili di Kota Batam. Hadir dalam kesempatan itu Eko Prasetyo, S.Ag, selaku penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam, Parisada Hindu Dharma Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI Prov. Kep. Riau, WHDI Kota Batam, Pasraman Jnana Sila Bhakti dan lembaga agama keagamaan di kota Batam.

Tawur Agung Kesanga tingkat Nasional dipusatkan di Candi Prambanan, Daerah Istemewa Yogyakarta pada tanggal 27 Maret 2017. Umat Hindu di Kota Batam juga melaksanakan upacara Tawur Agung di Pura Agung Amerta Bhuana. Tujuan dari Upacara Taur Agung ini adalah harmonisasi alam semesta sehingga tercipta keseimbangan antara energi positif dan negatif. Sehingga energi negatif tidak dominan dan tidak menguasai pikiran manusia. Taur Agung merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana yang artinya 3 (tiga) hubungan yang menyebabkan kebahagiaan manusia yaitu Parahyangan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, pawongan yang artinya hubungan yang harmonis antara  sesama manusia, dan Palemahan yang artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Di Sela-sela prosesi acara Penyelenggara Hindu bahwa Perayaan  Nyepi tahun ini adalah sebauah sinergi yang baik  antara umat Hindu,  Pengurus Umat dan dengan Pemerintah. Acara ini merupakan kerja keras panitia yang dipelopori oleh Parisada Provinsi Kepulauan Riau dan Parisada Kota Batam. Ke depan hal baik seperti ini harus kita tingkatkan dengan tetap memelihara Tri Kerukunan Umat beragama di Kota Batam. Menurut Eko tahun ini ada 4 (empat) ogoh-ogoh yang diarak yaitu 1 (satu) ogoh-ogoh rangda yang diarak oleh laki-laki dewasa, 1 (satu) ogoh-ogoh cluluk yang diarak oleh ibu-ibu yang tegabung dalam WDHI Prov. Kep. Riau dan WHDI Kota Batam, 1 (satu) ogoh-ogoh yang diarak oleh siswa Pasraman Jnana Sila Bhakti setingkat SMP, dan 1 (satu) ogoh-ogoh yang tidak kalah meriah yang diarak oleh siswa-siswi PAUD Jnana Sila Bhakti Kota Batam.

Penyelenggara Hindu juga menjelaskan bahwa tujuan upacara Taur kesanga adalah menghilangkan energi negatif alam semesta. Hal ini dilambangkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh – ogoh merupakan penggambaran bhuta kala dan sifat buruk manusia seperti marah, iri, serakah, benci,  malas dan sebagainya. Kita harus mampu memerangi sifat buruk kita yang merupakan musuh dalam diri manusia. Sehingga di akhir acara pawai ogoh –ogoh umat Hindu membakar 2 (dua) ogoh-ogoh yang artinya kita membakar dan memusnahkan sifat buruk kita. Kali ini Ogoh – ogoh sangat menarik karena umat Hindu Kota Batam membuat 2 (dua) ogoh –ogoh yang diusung dan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan.

I Wayan Catra Yasa juga memberikan sambutan sekaligus melepas secara resmi pawai Ogoh-ogoh Nyepi umat Hindu Kota Batam. Dalam sambutanya Wayan berpesan agar pawai ogoh-ogoh dilaksanakan dengan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan dan membuang sampah pada tempatnya. Wayan juga menjelaskan bahwa setelah rangkaian upacara Taur Agung dan pawai ogoh –ogoh, maka umat Hindu akan dapat melaksanakan prosesi Catur Brata penyepaian dan menyambut tahun baru Saka 1939 Saka selama 24 jam dengan tenang dan damai mulai hari Selasa tanggal 28 Maret 2017 jam 06.00 berakhir Hari Rabu tanggal 29 Maret 2017 jam 06.00 . Adapun Catur Brata Penyepian menurut Wayan adalah adalah: 1) amati karya artinya tidak bekerja, 2) amati geni artinya tidak menyalakan api, 3) amati lelungan artinya tidak bepergian, 4) amati lelanguan artinya tidak menikmati hiburan yang menyebabkan pemuasan hawa nafsu. Dari Perayaan Catur Brata Penyepeian diharapkan terjadi peningkatan kualitas spiritual umat Hindu di Kota Batam.

Selanjutnya adalah rangkaian Ngembak Geni dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 29 Maret 2017 mulai jam 06.00 waktu setempat. Ngembak geni secara harfiah adalah kembali menyalakan api, artinya umat Hindu mulai bekerja beraktifitas sesuai dengan swadharmanya masing-masing berlandaskan ajaran dharma atau kebenaran. Ngembak geni juga bermakna kit merayakan kemenangan setelah menjalankan Catur Brata Penyepian dengan berkunjung dari rumah ke rumah saling menyiarkan ajaran dharma dan menceritakan ajaran kebenaran atau dharma vada.

Sebagai puncaknya adalah dharma santi yang dilaksanakan pada Bulan April 2017 di Pura Agung Amerta Bhuana. Dharma Santi dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan dan budaya setempat. Iksa sakti desa kala dan tattwa. Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Pura Agun Amerta Bhuana. Dharma Santi adalah simbol persatuan umat di mana umat saling bertemu, bertegur sapa menyampaikan dan mendengar pesan perdamaian dan kebenaran dalam nuansa dhama (agama). Umat Hindu saling maaf memaafkan dan melakukan simakrama

Terakhir Penyelenggara Hindu berharap agar umat Hindu dapat melaksanakan rangkaian perayaan Nyepi 1939 saka dengan baik. Semoga melalui momentum Hari Raya Nyepi 1939 Saka kita dapat melakukan instropeksi diri dan penyadaran diri untuk menjadi umat Hindu yang lebih baik.  Di samping juga mempererat peratuan umat Hindu dan antar Umat Beragama, menjaga kerukunan intern dan ekstern umat bergama menuju Batam sebagai bandar dunia yang madani. Hari Raya Nyepi 2017 di Kota Batam diharapkan juga untuk meningkatkan kerukunan internal dan eksternal umat beragama di kota Batam, menjaga kebersihan dan ketertiban umum, tidak melakukan pemborosan dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan penggunaan anggaran yang efektif dan efesien, tidak merusak flora dan fauna serta tidak mengganggu ekosistem alam yang ada, memperhatikan budaya dan kearifan loka di Bumi Melayu, senantiasa mengedepankan koordinasi dengan instansi terkait agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dan berpedoman dan taat terhadap Tata Peraturan Perundang-Undangan

Upacara melasti Umat Hindu Kota Batam

Pada hari Minggu, 26 Maret 2017 lebih kurang 600 umat Hindu di Kota Batam menyelenggarakan Upacara Melasti sebagai rangakaian Upacara Nyepi 1939 Saka di danau Sei Ledi, Sekupang Batam. Dalam acara itu hadir  Eko Prasetyo, S.Ag, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian  Agama Kota Batam. Hadir juga Parisada Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI Kepulauan Riau, WHDI Kota Batam, Pasraman Jnana Sila Bahkti serta ketua lembaga agama keagamaan se-Kota batam.

Acara dimulai pada pukul 17.00 WIB dan selesai pada pukul 21.00 WIB. Dalam agama Hindu melasti juga disebut dengan Mekiyis. Melasti bertujuan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara yang akan digunakan dalam perayaan Nyepi berikutnya seperti Tawur Agung Kesanga yang jatuh pada hari Senin, 27 Maret 2017. Melasti juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu.

Menurut Penyelenggara Hindu bahwa upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala yaitu Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana,” yang artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lebih lanjut dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara, yang artinya: Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya Mensucikan sthana para dewa. Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Kegiatan ini Sesuai dengan edaran dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 27/Parisada Pusat/II/2017 perihal Kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 menetapkan Tema Nasional Hari Raya Nyepi yaitu: "Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". Perayaan hari Raya Nyepi 1939 Saka juga dimaksudkan untuk Penyucian Diri dan Alam Semesta Menuju Peningkatan Kualitas Budaya kerja. Artinya jika jiwa dan raga serta alam lingkungan sudah bersih maka kita akan mudah melaksanakan tugas dan kewajiban kita sehari-hari.

Acara dilanjutkan dengan dharma wacana atau ceramah keagamaan yang disampaikan oleh I wayan Catra Yasa selaku ketua Paruman Walaka Parisada Hidu Dharma Provinsi Kepulauan Riau. Dalam wacananya Wayan Catra menegaskan bahwa umat harus mengambil intisari dan makna melasti yang bertujuan untuk memohon kesucian diri dan anugerah berupa tirtha kehidupan. Wayan juga mengajak umat Hindu kota Batam untuk berpedoman pada tema Nyepi nasional yang telah ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat yaitu Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". ”Umat Hindu harus menjaga kerukunan intern dan ekstern umat bergama di kota Batam,” jelas Wayan mengakhiri wacananya.


Umat begitu antusias mengikuti prosesi Melasti dari awal hingga akhir acara. Dari acara melasti ini diharapka terjadi perubahan sikap spiritual umat Hindu di Kota Batam pada khususnya. Terjadi peningkatan kualitas spiritual sehingga terjadi perubahan sikap yang pada akhirnya bisa mencapai pencerahan batin. Demikian Penjelasan Penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam. (ep2017)

Kamis, 30 Maret 2017

Diskusi Interaktif Nyepi 1939 Saka RRI Batam

Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 di RRI Batam, Graha Pena, Batam Centre Drs. I Wayan Catra Yasa, MM selaku Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Kepulauan Riau dan Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam melakukan siaran interaktif RRI Batam dengan topik dengan tema Nyepi dan Pengendalian Diri.

Di awal penyampaiannya Wayan menjelaskan Konsep dasar Agama Hindu disebut Oanca Sradha. Dalam pelaksanaan ritual keagamaan harus didasari dengan sradaha atau keyakina. Jika spiritual tanpa keyakinan maka sama dengan gagal atau tidak mencapai tujuan dari yajna itu sendiri. Wayan Catra menjelaskan tentang korelasi pelaksanaan Nyepi dengan pengendalian Diri. Bahwasanya dalam rangkaian Nypei umat Hindu diajarkan untuk senantiasa mengendalikan diri. Wayan juga menyinggung penting menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan tempat kita tinggal. Ke tiga hal inilah menjadi penyebab kebahagiaan kita baik di dunia maupun setelah kita mati dan juga terwujudnya loka samggraha.

Selanjutnya Eko menjelaskan tema Nyepi Nasional dan rangkaian Nyepi 1939 Saka. Sesuai dengan edaran dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 27/Parisada Pusat/II/2017 perihal Kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 menetapkan Tema Nasional Hari Raya Nyepi yaitu: "Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". Dari tema ini Eko mengajak umat Hindu di Kota Batam untuk mengutamakan toleransi beragama daripada permusuhan. Kerukunan adalah modal awal membangun bangsa.

Kemudian Eko menjelaskan rankaian Nyepi yang diawali dengan Melasti. Di Kota Batam upcara Meleasti dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 26 Maret 2017 jam 17.00 WIB di danau Sei Ledi. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala melasti bertujuan untuk Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana yang artinya Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Dan dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara yang artinya Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya ”Mensucikan sthana para dewa”

Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan.

Dilanjutkan Upacara Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 27 Maret 2017. Upacara Tawur Kesanga bertujuan untuk memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam beserta isinya. Upacara Tawur juga bertujuan untuk menyeimbangkan energI alam, karena alam terdiri dari energy positif dan negative. Melalui prosesi Tawur kita melakukan mecaru untuk menyeimbangkan kekuatan unsur bhuta kala sehingga dapat ikut menjaga kelangsungan dunia.

upacara Tawur Kesanga identik dengan Pawai Ogoh-ogoh. Dan pada kesempatan ini umat Hindu Batam membuat 4 (empat) ogoh-ogoh terdiri dari perwujudan bhuta kala yang diararak oleh Remaja putra, ibu-ibu, siswa Pasraman Jnana Sila Bahkti dan siswa PAUD Janan Sila Bhakti. Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Pada hari Selasa pagi tanggal 28 Maret dari jam 06.00 WIB sampai dengan Hari Rabu pagi, tanggal 29 Maret 2017 jam 06.00 WIB umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian.. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah menetapkan perayaan Nyepi dilaksanakan dengan menjalankan Catur Brata Penyepian untuk umat yaitu yang pertama adalah Amati Geni (tidak menyalakan api). Maksudnya adalah bukan hanya tidak menyalakan api sungguhan, namun kita harus mematikan amarah dalam diri kita sendiri. Yang kedua adalah Amati Karya (tidak bekerja). Maksudnya menyepikan indera-indera kita terhadap aktivitas duniawi, mengendalikan indera-indera kita. Kita senantiasa diharapkan untuk melakukan meditasi pada Brahman. Ketiga adalah Amati Lelungan (tidak bepergian). Maksudnya adalah kita tidak membiarkan pikiran mengembara tak tentu arah, pikiran senantiasa diarahkan untuk selalu memikirkan hal-hal tentang keagungan Brahman. Terakhir adalah Amati Lelanguan (tidak mencari kesenangan). Maksudnya bahwa kita harus membatasi kesenangan sehari-hari, seperti makan dan minum, nonton TV, musik dan sebagainya.

Rangkaian Ngembak Geni dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 29 Maret 2017 mulai jam 06.00 waktu setempat. Ngembak geni secara harfiah adalah kembali menyalakan api, artinya umat Hindu mulai bekerja beraktifitas sesuai dengan swadharmanya masing-masing berlandaskan ajaran dharma atau kebenaran. Ngembak geni juga bermakna kit merayakan kemenangan setelah menjalankan Catur Brata Penyepian dengan berkunjung dari rumah ke rumah saling menyiarkan ajaran dharma dan menceritakan ajaran kebenaran atau dharma vada.

Sebagai puncaknya adalah dharma santi yang dilaksanakan pada tanggal 8 April 2017 di Pura Agung Amerta Bhuana. Dharma Santi dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan dan budaya setempat. Iksa sakti desa kala dan tattwa. Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Pura Agun Amerta Bhuana. Dharma Santi adalah simbol persatuan umat di mana umat saling bertemu, bertegur sapa menyampaikan dan mendengar pesan perdamaian dan kebenaran dalam nuansa dhama (agama). Umat Hindu saling maaf memaafkan dan melakukan simakrama

Di akhir pembicaraannya Eko berpesan kepada panitia Nyepi untuk menjaga kerukunan internal dan eksternal umat beragama di kota Batam, menjaga kebersihan dan ketertiban umum, tidak melakukan pemborosan dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan penggunaan anggaran yang efektif dan efesien, tidak merusak flora dan fauna serta tidak mengganggu ekosistem alam yang ada, memperhatikan budaya dan kearifan lokal di bumi Melayu, senantiasa mengedepankan koordinasi dengan instansi terkait agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dan berpedoman dan taat terhadap Tata Peraturan Perundang-Undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (eko2017)